ahmad-rusfidra

Wednesday, October 11, 2006

Peranan Peternakan dalam Mencegah Gizi Buruk dan Pengentasan Kemiskinan

Peranan Peternakan dalam Mencegah Gizi Buruk dan Pengentasan Kemiskinan

Oleh: Dr. A. Rusfidra
(analis peternakan)
sumber: www.sumbarprov.go.id,

"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu terdapat pelajaran yang penting bagi kamu. Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada di dalam perutnya, dan (juga) pada binatang itu terdapat manfaat yang banyak untuk kamu, dan sebagian dari padanya kamu makan". (QS. Al Mukminun <23>: 21)

Kemiskinan dan pengangguran merupakan dua masalah besar bangsa yang saling kait mengait. Kemiskinan menyebabkan orang memiliki akses yang rendah pada sumber ekonomi dan sumber pengetahuan dan keterampilan. Hal ini kemudian berdampak pada tejadinya pengangguran. Belitan kemiskinan dan tingkat keterampilan yang rendah juga berdampak pada terbatasnya akses terhadap sumber pekerjaan yang berpenghasilan layak. Dampak berikutnya adalah sulitnya mereka memenuhi kecukupan pangan bergizi. Saat ini sekitar 1,67 juta anak bawah lima tahun (balita) (8% dari anak usia 0-4 tahun) berstatus sebagai penderita gizi buruk (malnutrisi). Sekitar 62 juta (15,5 juta keluarga) warga bangsa tergolong keluarga miskin, dan 10,8 juta pengangguran terbuka. Sekitar 55% angkatan kerja di negeri ini hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Ironis memang!Untuk kasus Indonesia, kemiskinan merupakan masalah pelik yang terus menerus menjadi perhatian rezim penguasa. Keberhasilan mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran merupakan indikator keberhasilan pembangunan nasional.

Namun sayangnya program pengentasan kemiskinan yang ditawarkan pemerintah masih superfisial, instan dan belum menyentuh akar permasalahan penyebab kemiskinan. Saat ini misalnya pemerintah meluncurkan program Bantuan Langsung Tunai (BLT) dengan memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp. 300 ribu kepada 15,5 juta keluarga miskin. Menurut penulis, program BLT tak obahnya memberikan “ikan”, bersifat instan dan berjangka pendek. Pemimpin yang efektif tidak cukup hanya memberikan “ikan” dan “kail”, namun lebih penting adalah menunjukkan “jalan” cara menangkap “ikan” dan membuat “kail”. “Jika Anda memberikan seekor ikan kepada seseorang, berarti Anda hanya memberinya makan untuk sehari saja. Akan tetapi, jika Anda memberinya kail, berarti Anda telah memberinya makan sepanjang hidupnya. Ketika Anda mengajarinya cara membuat kail, berarti Anda telah memberinya sebuah kehidupan baru dan bukan hanya makanan” (Steven R. Covey).

Artikel ini dimaksudkan untuk menunjukkan jalan bagi pengambil kebijakan dalam upaya mengatasi masalah gizi buruk dan pengentasan kemiskinan secara sistematis dan berkelanjutan. Program “Family Poultry” merupakan program Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani, sebagai sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang. Program ini dikembangkan di negara-negara sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Selatan dengan menjadikan ayam kampung sebagai sumber protein hewani dan pendapatan keluarga.

Tujuan FP adalah mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber uang tunai bagi keluarga miskin dan sangat miskin.

Tantangan Penyedian Protein Hewani

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa. Demikian dikatakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas saat menyebutkan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2000-2025 (Kompas, 3/8/2005). Dengan jumlah penduduk sebesar itu Indonesia merupakan pasar yang luar biasa besar. Namun sayangnya, kita masih sangat tergantung pada bahan impor. Setiap tahun Indonesia mengimpor sapi hidup sebanyak 450 ribu ekor dari Australia. Setiap tahun negara agraris ini mengimpor 1 juta ton bungkil kedele, 1,2 juta ton jagung, 30 ribu ton tepung telur dan 140 ribu ton susu bubuk. Importasi bahan pangan tersebut menguras devisa negara cukup besar.Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999).

Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat.Merebaknya kasus gizi buruk (malnutrisi) dan busung lapar pada anak-anak usia bawah lima tahun (balita) beberapa waktu lalu sangat merisaukan kita sebagai bangsa.

Sesungguhnya, kasus malnutrisi disebabkan kurangnya asupan kalori-protein pada tingkat rumahtangga. Masa balita merupakan “periode emas (the golden age)” pertumbuhan anak manusia dimana sel-sel otak sedang berkembang dengan pesat. Dalam periode ini protein hewani sangat dibutuhkan agar otak berkembang secara optimal, tidak sampai tulalit, (Nadesul, Kompas 9/7/05). Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa (Pinstrup-Andersen, 1993 dalam Rusfidra, 2005a). Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa.

Namun sayangnya, ditengah usaha berbagai pihak mempromosikan peningkatan konsumsi protein hewani, negara ini kembali disibukkan oleh merebaknya wabah flu burung. Hingga Januari 2006 jumlah pasien yang diduga terinfeksi flu burung berjumlah 85 orang, dimana 17 pasien diantaranya meninggal dunia. Realitas ini menunjukkan bahwa kasus flu burung masih bersirkulasi di sekitar kita Oleh karena itu, kita berharap kepada aparatur pemerintah (Deptan dan Depkes) agar bekerja dengan visi dan rencana kerja yang sistematis, tidak bekerja serabutan seperti selama ini. Selama ini terkesan birokrat bekerja seperti “pemadam kebakaran”, baru kelihatan program kerjanya setelah timbulnya masalah.

Wabah flu burung telah berdampak pada turunnya konsumsi daging dan telur karena adanya kekawatiran masyarakat akan terinfeksi flu burung bila memakan telur dan daging ayam. Meskipun wabah flu burung bersifat fatal (mematikan) pada unggas, namun konsumen tidak perlu kawatir untuk mengkonsumsi daging ayam dan telur. Karena dengan pemanasan pada suhu 56 C selama 3 jam atau pada 60 C selama 30 menit virus Avian Influenza (AI) akan mati. Artinya, selama konsumen tidak memakan telur atau daging ayam mentah, maka kecil peluang terinfeksi AI (Rusfidra, 2005b). Penularan flu burung selama ini terjadi melalui pernafasan (air borne desease), bukan melalui makanan (food borne desease). Karena itu, kampanye makan daging ayam dan telur secara aman merupakan langkah cerdas untuk memulihkan citra bahwa memakan daging ayam dan telur relatif aman sepanjang kedua komoditi unggas tersebut diolah secara benar sebelum dimakan.Selain itu, juga diperlukan program penyediaan sumber protein hewani yang murah, mudah tersedia, terjangkau dan bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga. Dalam konteks ini, program “Family Poultry” layak ditimbang sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi, efektif dalam pengentasan kemiskinan, menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber pendapatan (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005c, Rusfidra, 2005d).

Konsumsi Protein Hewani

Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia untuk hidup sehat. Kita memerlukan pangan hewani (daging, susu dan telur) sebagai sumber protein untuk kecerdasan, memelihara stamina tubuh, mempercepat regenerasi sel dan menjaga sel darah merah (eritrosit) agar tidak mudah pecah. Meskipun masyarakat menyadari pangan hewani sebagai kebutuhan primer namun hingga kini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sangat rendah. Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi penduduk Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) (Poultry International, 2003). Jadi, konsumsi daging unggas penduduk Indonesia hanya 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia 100 gram/kapita/hari. Konsumsi telur penduduk Indonesia juga rendah, yakni 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia 14,4 kg, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila satu kilogram telur rata-rata terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur penduduk Indonesia sekitar 46 butir/kapita/tahun atau 1/8 butir/kapita/hari. Pada periode yang sama, penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan 245 butir telur atau 2/3 butir telur/kapita/hari. Konsumsi susu masyarakat Indonesia sangat rendah, yakni sekitar 7 kg/kapita/tahun, Malaysia mencapai 20 kg/kapita/tahun, sedangkan masyarakat Amerika Serikat memiliki konsumsi susu mencapai 100 kg/kapita/tahun. Konsumsi madu masyarakat Indonesia baru 15 gram/kapita/tahun, sedangkan orang Amerika konsumsi madunya mencapai 1600 gram/kapita/tahun.Konsumsi daging, telur dan susu yang rendah menyebabkan target konsumsi protein hewani sebesar 6 gram/kapita/hari masih jauh dari harapan. Angka ini dapat dicapai bila konsumsi terdiri dari 10 kg daging; 3,4 kg telur dan 6 kg susu/kapita/tahun. Padahal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, rata-rata konsumsi protein hewani yang ideal adalah 26 gram/kapita/hari (Tuminga et. al. 1999 dalam Rusfidra, 2005c). Analisis paling akhir oleh Prof. I.K Han, guru besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul, Korea Selatan (1999) menyatakan adanya kaitan positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan perkapita. Semakin tinggi konsumsi protein hewani penduduk semakin tinggi umur harapan hidup dan pendapatan domestik brutto (PDB) suatu negara.Negara-negara berkembang seperti Korea, Brazil, China, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya berkisar 65-75 tahun. Negara-negara maju seperti AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi protein hewani masyarakatnya 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85 tahun. Sementara itu, negara-negara yang konsumsi protein hewani di bawah 10 gram/kapita/hari seperti Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya berkisar 55-65 tahun (Han, 1999).Delgado et. al (1999) dalam Rusfidra (2005a) memperkirakan akan terjadi peningkatan produksi dan konsumsi pangan hewani dimasa depan.


Di dalam artikel “Peternakan 2020: Revolusi Pangan Masa Depan”, mereka menduga konsumsi daging penduduk dunia akan meningkat dari 233 juta ton (tahun 2000) menjadi 300 juta ton (tahun 2020). Konsumsi susu meningkat dari 568 juta ton (tahun 2000) menjadi 700 juta ton pada tahun 2020, sedangkan konsumsi telur diperkirakan mencapai 55 juta ton. Hal itu disebabkan meningkatnya jumlah penduduk dunia, meningkatnya kesejahteraan dan meningkatnya kesadaran gizi masyarakat dunia.

Hardjosworo (1987) dalam Rusfidra (2005e) mengidentifikasi empat faktor penting penyebab rendahnya konsumsi protein hewani:Pertama, mahalnya harga pangan asal ternak bila diukur dari rata-rata pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia. Mata rantai yang harus dilalui oleh proses produksi mulai dari pengadaan pakan sampai ke tangan konsumen sangat panjang. Untuk menghasilkan daging, telur dan susu diperlukan pakan ternak yang mahal, apalagi komponen bahan pakan unggas (bungkil kedele, tepung ikan dan jagung) merupakan bahan impor. Kedua, tidak meratanya ketersediaan daging, susu dan telur di seluruh penjuru tanah air. Bahan pangan hewani tersebut melimpah di kota-kota besar tetapi sangat langka di daerah yang jauh dari perkotaan. Kurang meratanya tingkat ketersediaan daging, susu dan telur dapat disebabkan oleh tingkat permintaan yang dipengaruhi antara lain oleh daya beli dan tingkat pendapatan masyarakat. Ketiga, pengaruh kemampuan produksi dalam negeri terhadap konsumen protein hewani.Keempat, selera selektif dari masyarakat Indonesia.

Bila dibandingkan dengan negara-negara Barat yang lebih tinggi tingkat ekonominya, variasi jenis ternak yang dijadikan sumber pangan di Indonesia sangat sempit. Sebagai contoh dari ternak unggas hanya ayam yang disukai, sedangkan itik dan puyuh baru sebagaian kecil yang memanfaatkan.

Manfaat Protein Hewani

Rendahnya konsumsi protein hewani berdampak pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup penduduk Indonesia. Negara Malaysia yang pada tahun 1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia, terutama dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Dalam periode tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-111, satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya, Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83) (Rusfidra, 2002).Studi Monckeberg (1971) dalam Rusfidra (2005c) menunjukkan adanya hubungan tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental. Ironisnya mereka pada umumnya berasal dari keluarga tidak mampu (miskin). Kondisi ini merupakan gejala yang umum terjadi di negara-negara berkembang sebagaimana pengamatan Todaro (2000), “Penduduk miskin di berbagai negara dengan cepat mempelajari bahwa pendidikan merupakan cara yang ampuh untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Namun dalam kenyataannya, anak-anak miskin merupakan orang yang pertama dikeluarkan dari dari kelas karena mengantuk akibat kekurangan gizi, dan orang yang pertama gagal ujian Bahasa Inggris karena mereka tidak punya kesempatan belajar di rumah seperti anak keluarga kaya”.

Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Shiraki et al. (1972) dalam Rusfidra (2005c) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani.Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit (sel darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan dalam mempercepat regenerasi sel darah merah.

Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005e).

Pengembangan Ternak Lokal

Dalam rangka memacu pertumbuhan produksi peternakan nasional, seharusnya perhatian lebih difokuskan pada usaha peternakan rakyat dan ternak lokal yang tersebar mulai dari perkotaan sampai perdesaan. Menurut Martojo (2003) jumlah rumahtangga peternakan sekitar 4,5 juta rumahtangga (RTP). Bentuk peternakan yang ada pun sebagian besar merupakan peternakan rakyat, yaitu sapi potong (99,6 %), kambing/domba (99,99 %), kerbau (88,7 %), sapi perah (91,1 %), ayam ras petelur (82,4 %), ayam buras dan itik (100 %) (Soehadji, 1992 dalam Rusfidra, 2004)

Pada umumnya ternak-ternak yang dipelihara pada usaha peternakan rakyat adalah ternak lokal. Ternak lokal merupakan sumber daya ternak yang sudah lama dipelihara peternak pedesaan dan berperan penting dalam sistem usahatani di perdesaan. Usaha peternakan rakyat inilah yang seharusnya menjadi basis pengembangan peternakan nasional. Pengembangan komoditi ternak yang berbasis bahan pakan impor sangat rawan dijadikan sebagai basis pembangunan peternakan nasional. Alasannya adalah tiga komponen bahan pakan (jagung, bungkil kedelai dan tepung ikan) merupakan bahan impor yang menguras devisa. Itulah sebabnya usaha peternakan berbahan baku impor (ayam ras pedaging dan petelur) mengalami kontraksi yang tajam ketika krisis ekonomi dan bangkrutnya secara massal para peternak ayam ras


Peranan Sektor Peternakan daam Pengentasan Kemiskinan

Kemiskinan dapat dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kemiskinan struktural dan kemiskinan natural. Kemiskinan struktural sering disebut kemiskinan buatan, misalnya akibat regulasi yang tidak berkeadilan dan tananan organisasi yang tidak kondusif. Kemiskinan natural biasanya disebabkan oleh rendahnya kualitas SDM dan terbatasnya potensi sumber daya alam yang ada disekitar mereka. Akibat mutu SDM yang rendah (misalnya karena tingkat pendidikan yang rendah, tingkat pengetahuan terbatas dan terbatasnya networking) sehingga mereka sulit mengembangkan potensi diri dan berkompetisi dengan kompetitornya. Dengan kondisi yang serba terbatas tersebut maka tidak ada jalan lain kecuali bekerja di bidang pertanian secara umum (tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan peternakan). Sektor pertanian merupakan sektor penting dalam struktur perekonomian nasional. Pada tahun 2003 sektor pertanian mampu menyerap 46 persen tenaga kerja. Karena itu, adalah wajar bila sektor pertanian dijadikan sebagai penggerak utama (prime mover) pembangunan nasional. Disamping mampu menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan pokok yang murah, bergizi tinggi dan terjangkau, sektor pertanian jga telah berperan penting sebagai sumber pendapatan, sebagai bentuk investasi dan menyediakan lapangan kerja. Konstribusi sektor pertanian terhadap pendapatan domestik brutto (PDB) riil tahun 2003 adalah sebesar 15,83 persen, berada di bawah sektor industri (26,07 persen) dan perdagangan (15,95 persen). Angka tersebut menujukkan betapa urgennya dan strategisnya sektor pertanian dalam pembanguan nasional.


Sub sektor peternakan memainkan peran penting dalam pembangunan pertanian. Kontribusi sub-sektor peternakan terhadap sektor pertanian dan produk domestik brutto pada tahun 2001 masing-masing adalah 11% dan 1,9% (Utoyo, 2002). Karenanya tidaklah mengherankan jika sub sektor peternakan diharapkan sebagai sektor pertumbuhan baru, baik dalam bidang pertanian maupun pertumbuhan ekonomi nasional. Cukup signifikannya sumbangan sub sektor peternakan antara lain disebabkan oleh jumlah populasi tenak yang besar, pemilikannya yang sangat luas dan peranannya yang multiguna.Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditi yang memiliki banyak manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan pangan yang bergizi tinggi dan dikonsumsi anggota rumah tangga.

Ternak berperan penting dalam program ketahanan pangan rumah tangga petani, terutama bagi petani ternak di pedesaan. Sebagian ternak juga menghasilkan tenaga yang dapat digunakan dalam mengolah lahan pertanian. Ternak juga berperan sebagai sumber uang tunai, sebagai sumber pendapatan dan sebagai salah satu bentuk investasi (tabungan hidup) yang dapat diuangkan sewaktu dibutuhkan. Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan keagamaan: misalnya pelaksanaan ibadah qurban tentu juga membutuhkan ternak sapi, domba ataupun kambing. Ternak lokal tersebut tidak hanya pemilikannya yang tersebar luas di tangan petani pedesaan, juga telah berperan penting dalam masa krisis ekonomi.

Produksi “Family Poultry”

“Family Poultry” (FP) merupakan program Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani, sebagai sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang. Program ini dikembangkan di negara-negara sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Selatan dengan menjadikan ayam kampung sebagai sumber protein hewani dan pendapatan keluarga. Tujuan FP adalah mewujudkan ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga dan sebagai sumber uang tunai bagi keluarga miskin dan sangat miskin. Olukosi (2005) dalam Rusfidra (2005a) menyimpulkan bahwa FP merupakan sebuah piranti (tool) yang penting dalam pengentasan kemiskinan. Di Afrika program FP sangat populer di banyak tempat dimana sekitar 90% rumahtangga di Afrika memelihara ayam kampung (village chicken). Program FP di Mozambik dan Vietnam FP memainkan peranan penting di perdesaan Mozambik. Ada tiga program yang dilakukan untuk ketahanan pangan (food security) dan mengurangi angka kemiskinan pada program FP yaitu kontrol penyakit ND pada ayam kampung, kerjasama produksi ayam pedaging di daerah pinggiran kota dan melakukan karakterisasi ekotipe ayam lokal.Pada tahun 1999 Mozambik memiliki penduduk 16 juta jiwa, 71% diantaranya tinggal di perdesaan. Dua diantara tiga orang di Mozambik hidup dalam kondisi kemiskinan absolut (absolute poverty) dengan penghasilan kurang dari 0,25 US dolar per kapita per hari. Sebagian besar masyarakat Mozambik berusaha dalam sektor pertanian. Spesies ternak yang dipelihara bervariasi dari ternak ayam, itik, babi, kambing, domba dan sapi. Setidaknya 70% dari 3 juta rumahtangga memelihara ternak ayam, 30% memelihara kambing, 20% memelihara itik dan babi, 4% memelihara sapi dan 3% memelihara kelinci. Ternak ayam merupakan penyumbang utama pangan hewani (daging dan telur). Ayam yang dipelihara secara tradisional berperan penting dalam mengurangi angka kemiskinan dan ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga di Mozambik. Vietnam memiliki jumlah penduduk 78 juta jiwa. Mata pencarian utama penduduk adalah bertani (sebesar 80%). Produksi tanaman utama adalah padi. Sub sektor peternakan menyumbang sebesar 27% terhadap sektor pertanian. Konsumsi perkapita produk ternak pada tahun 2000 adalah 32,4 kg daging (termasuk 5,0-5,5 kg daging unggas), 53,3 butir telur dan 0,5 liter susu segar. Sebanyak 77% daging konsumsi berasal dari babi, 16% daging unggas dan 7% dari sapi dan kerbau.Ternak unggas merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat perdesaan dan memiliki fungsi sosial yang penting. Populasi unggas di Vietnam meningkat sebesar 9,5% per tahun. Pada tahun 2000 populasi unggas sekitar 196 juta ekor dengan produksi mencapai 270.000 ton. Sebanyak 75% ayam dipelihara dalam skala rumahtangga dengan sistem ekstensif. Setiap keluarga perdesaan rata-rata memiliki ayam kampung 10-20 ekor. Ayam kampung berperan sebagai sumber pangan hewani (daging dan telur), uang tunai (penjualan ayam, telur dan ayam bibit) dan sumber bibit untuk usaha berikutnya.

Program FP di Indonesia

Dengan melihat keberhasilan program FP di beberapa negara berkembang, penulis menduga bahwa program ini layak dikembangkan di Indonesia. Jenis ternak yang akan menjadi basis pengembangan program FP adalah ayam kampung (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005c). Ayam kampung merupakan jenis ayam yang paling banyak dipelihara dan sudah lama akrab dengan masyarakat di perdesaan. Pada tahun 1997 terdapat 270,7 juta ekor ayam kampung (Ditjen Peternakan, 1997) yang tersebar diseluruh negeri. Ayam kampung sangat populer dipelihara sebagai penghasil daging dan telur. Daging dan telurnya sangat digemari masyarakat karena bergizi tinggi, gurih, dan memiliki cita rasa yang digemari konsumen. Menurut Aini (1990), pemeliharaan ayam kampung petelur sebanyak 10-15 ekor per rumahtangga dapat menyuplai daging dan telur sebagai bahan pangan sumber protein hewani untuk anggota keluarga. Untuk kasus Indonesia, penulis menyarankan FP dikembangkan dengan populasi dasar 10 ekor ayam betina dan 1 ekor jantan. Bila setiap induk menghasilkan telur rata-rata 50 butir per ekor per tahun, maka dalam satu tahun dihasilkan 500 butir telur. Adapun rasio pemanfaatan telur adalah sebagai berikut: 250 telur ditetaskan (50%), 150 telur dikonsumsi (sumber protein hewani) (30%) dan 100 telur dijual (20%). Bila diasumsikan daya tetas sebesar 80% maka didapatkan 200 ekor anak ayam umur sehari (DOC, day old chick). Bila angka mortalitas 40% pada ayam umur di bawah 8 minggu dan 16% pada ayam dara (di atas 8 minggu), maka didapatkan 96 ekor ayam dara. Sebanyak 24 ekor ayam dipotong untuk dimakan, 24 ekor dijual dan 48 ekor akan dijadikan induk (breed stock). Ini berarti dalam waktu satu tahun untuk setiap 10 ekor induk akan menghasilkan 48 ekor ayam betina calon induk baru per tahun, sehingga total jumlah induk betina adalah 58 ekor, meningkat 5,8 kali dari populasi dasar. Selain itu, petani juga mendapatkan uang tunai sebanyak Rp. 670.000, mengkonsumsi 150 butir telur dan 24 ekor ayam pada tahun pertama, dan meningkat 5,8 kali pada tahun berikutnya.

Bila ayam kampung dipelihara dengan baik, maka ayam tersebut akan memainkan peranan penting sebagai sumber protein hewani bergizi tinggi (daging dan telur) dan sebagai sumber uang tunai bagi rumahtangga miskin, sehingga kasus malnutrisi dapat diatasi secara sistematis. Dengan memperhatikan paparan tersebut di atas, terbukti bahwa ayam kampung dapat memainkan peran penting sebagai sumber protein hewani dan sumber pendapatan keluarga. Oleh karena itu, program FP layak ditimbang sebagai sebuah solusi praktis dalam mengatasi kasus gizi buruk, efektif dalam pengentasan kemiskinan dan menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga bagi 15,5 juta rumahtangga miskin di Indonesia (Rusfidra, 2005a, Rusfidra, 2005d).

Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya bahan pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman dikonsumsi, merata, dan terjangkau untuk hidup pokok. Konsep ketahanan pangan (food security) biasanya diukur dalam dua tataran, yakni makro (nasional) dan mikro (rumahtangga). Ketahanan pangan yang ideal adalah ketahanan pangan pada tingkat rumahtangga.Ketahanan pangan di tingkat rumahtangga mempunyai prespektif pembangunan sangat mendasar karena: 1) akses pangan dan gizi seimbang bagi seluruh rakyat merupakan hak asasi, 2) pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh keberhasilan memenuhi kecukupan pangan dan gizi, 3) ketahanan pangan merupakan unsur strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional.

Catatan Akhir


Mengingat pentingnya protein hewani asal ternak (daging, susu dan telur) bagi manusia, maka konsumsi produk ternak semestinya dipacu menuju tingkat konsumsi ideal. Protein hewani asal ternak memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Karena itu, langkah mengurangi konsumsi daging dan telur agaknya bukanlah langkah bijak. Tidak tepat konsumen ragu memakan daging dan telur ayam yang diolah secara benar meskipun wabah flu burung hingga kini belum berhasil diberantas dengan tuntas. Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia harus dipacu kearah ideal untuk mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat. Dengan tersedianya pangan hewani bergizi tinggi pada tingkat rumahtangga petani maka diharapkan ketahanan pangan dapat terjadi pada tingkat rumahtangga sehingga kasus malnutrisi dapat dicegah secara sistematis. Selain itu, yang tidak kalah penting adalah peranan ternak dan produk peternakan sebagai sumber pendapatan dan sumber lapangan kerja yang efektif dalam pengentasan kemiskinan di perdesaan.



Untuk mengakhiri tulisan ini agaknya pantas kita renungkan sebuah pepatah berbahasa Arab yang dikutip dalam Campbell dan Lasley (1985), yang berbunyi sebagai berikut : “Negara yang kaya dengan ternak tidak akan pernah miskin. Negara yang miskin dengan ternak tidak akan pernah kaya”. Ayo majukan sektor peternakan.

Dr. A. Rusfidra

(Pemerhati peternakan, tinggal di Bogor)

0 Comments:

Post a Comment

<< Home