ahmad-rusfidra

Monday, February 05, 2007

Ayamku Sayang, Ayamku Malang

Ayamku Sayang, Ayamku Malang

Oleh: DR. A. Rusfidra, S.Pt
(Penulis adalah Pemerhati Peternakan, Chairman Cendekia Publishing Bogor)


Melalui pemberitaan di media elektronik dan media massa kita menyimak adanya tekat kuat pemerintah untuk mengendalikan penularan flu burung di tanah air. Salah satu cara penting menurut para pejabat adalah menjauhkan unggas non-komersial (ayam kampung, itik dan burung dara) dari pemukiman warga. Konon, ketiga spesies unggas tersebut merupakan vektor utama penularan virus avian influenza (AI) dari unggas ke manusia, sehingga harus dimusnahkan. Asumsinya, bila ketiga jenis unggas tersebut tidak berkeliaran di pemukiman maka kasus manusia terinfeksi virus AI akan berkurang. Gubernur DKI Jakarta dan Banten mengeluarkan peraturan gubernur yang melarang warganya memelihara unggas non-komersial di pemukiman. Bahkan daerah DKI Jakarta mulai tanggal 1 Februari harus steril dari ayam kampung, titik dan burung dara.

Aturan ini diduga akan diikuti oleh pejabat di sembilan propinsi yang dinyatakan endemik flu burung. Menteri Pertanian Anton Apriyantono melarang ayam hidup masuk ke kota Jakarta (Republika Online, 31/1/2007). Atas dasar dua regulasi tersebut maka habislah peluang ayam kampung dan itik dengan menghasilkan telur dan daging untuk konsumsi warga ibukota. Selain itu, warga ibukota tidak lagi dapat melihat ayam kampung, bahkan tidak lagi dapat mendengar suara kokok ayam jantan yang nyaring dan merdu.

Ayam kampung ‘dituduh’ sebagai vektor utama penular virus AI dari unggas ke manusia, pada hal sejatinya ayam kampung sendiri adalah korban keganasan virus AI. Studi yang dilakukan Prof. Wasito dan Prof. Hastari (dosen FKH UGM) menyatakan bahwa lalat diduga potensial sebagai vektor penularan flu burung. Gubernur Sutiyoso mestinya menyatakan perang pula terhadap lalat. Anjing dan kucing yang hidup berdampingan dengan manusia juga potensial sebagai vektor flu burung.

Penulis sepakat bahwa flu burung memang harus dikendalikan dengan cara-cara yang rasional, logis dan memiliki argumentasi saintifik, bukan dengan tingkah reaktif dan terkesan panik. Pemerintah sebaiknya mempertimbangkan dampak sosial ekonomi dan dampak biologis bila rencana pemusnahan ayam kampung dilakukan.

Status Terkini Ayam Kampung

Ayam kampung merupakan ayam yang banyak dipelihara masyarakat pedesaan. Ayam ini umumnya ditemukan hidup dan berkembang di kampung-kampung, dimana manusia bermukim. Itu sebabnya ayam ini dinamakan ayam kampung (village chicken). Manusia telah melakukan domestikasi ayam ini dari ayam hutan liar dalam waktu yang lama. Relasi antara manusia dan ayam kampung bersifat mutual interaksi. Manusia mendapatkan daging dan telur dari ayam kampung, sedangkan ayam kampung mendapatkan pakan dari sisa makanan manusia dan kandang untuk tinggal.

Kini diduga sekira 300 juta ayam kampung tersebar dari perkotaan sampai pelosok negeri. Bila satu rumahtangga memelihara 15 ekor ayam kampung, maka setidaknya terdapat 20 juta rumahtangga yang memelihara ayam kampung. Ayam kampung berperan penting sebagai sumber pendapatan keluarga, sumber pangan hewani (daging dan telur), untuk kesenangan (hias, penyanyi, aduan), aset biologis, aset religius dan digunakan dalam ritual pengobatan. Ayam kampung merupakan plasma nutfah ayam asli Indonesia yang perlu dilestarikan.
Menurut Atteh (1989), tujuan pemeliharaan ayam kampung adalah sebagai berikut: sumber uang tunai (11%), konsumsi keluarga (28%), pendapatan dan konsumsi (45%), upacara keagamaan (3%), pendapatan dan upacara keagamaan (11%), upacara keagamaan dan
konsumsi (3%) dan ornamental (hiasan) (1%).

Meskipun populasinya cukup besar, namun cara pengelolaan ayam kampung masih bersifat tradisional (100 persen). Ayam mencari makanan disekitar rumah seperti cacing tanah, limbah rumahtangga, serangga dan limbah pertanian. Jumlah pemilikan ayam skala kecil. Rataan jumlah ayam petelur 10-15 ekor/rumahtangga dapat menyuplai daging dan telur sebagai sumber pangan hewani. Sebanyak 15 ekor ayam dewasa dapat menghasilkan 1,0-1,2 kg kotoran per hari (Aini, 1990) yang bermanfaat sebagai pupuk kandang untuk buah dan sayur di pekarangan rumah. Pada sistem produksi pedesaan, kaum perempuan memainkan peranan penting dalam pemeliharaan ayam kampung. Kegiatan memberi makan, menjual ayam, keputusan menjual ayam, keputusan vaksinasi, keputusan memotong dan mengkonsumsi daging dan telur biasanya ada pada kaum wanita. Atteh (1989) menyatakan bahwa di pedesaan Nigeria pemeliharaan ayam kampung menjadi tanggungjawab wanita (86%) dan pria (14%).

Vaksinasi, Bukan Memusnahkan

Dalam Simposium Internasional Penanggulangan Flu Burung yang berlangsung di Jakarta tanggal 19-20 Juli 2006, Naipospos (2006) menyebutkan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pandemi flu burung. Strategi tersebut antara lain: melakukan vaksinasi AI pada ternak unggas terutama di tempat mewabahnya AI, melakukan tindakan biosekuriti secara ketat dilingkungan usaha peternakan unggas, dan melakukan surveilans serta edukasi publik terhadap penyakit flu burung. Vaksinasi dan surveilans merupaka dua pilar penting dalam pengendalian flu burung. Vaksinasi AI dapat meningkatkan kekebalan unggas dan mencegah meluasnya transmisi virus AI.

Pengalaman Thailand dan Kamboja

Sebaiknya kita belajar dari pengalaman negara Thailand dan Kamboja dalam penanganan flu burung. Di Thailand pengendalian flu burung melibatkan 13 departemen,- termasuk departemen Pertahanan, dan 2 juta orang relawan. Para relawan mendatangi rumah ke rumah untuk memeriksa unggas, mencari unggas sakit dan memusnahkanya. Kampanye juga dilakukan di pasar-pasar unggas. Tentara dan polisi dikerahkan untuk membantu peternak melakukan culling di daerah terinfeksi AI dan mengawasi pergerakan ayam hidup dan produk unggas dari suatu tempat ke tempat lainnya. Thailand menerapkan tiga strategi, yaitu: (1) Melakukan surveilans secara intensif dengan menggunakan sinar-X, (2). Memberikan kompensasi yang memadai pada peternak yang unggasnya dimusnahkan, yakni sebesar 75% dari harga pasar, dan (3). Melakukan pengawasan terhadap pergerakan unggas di dalam negeri. Targetnya adalah pada akhir tahun 2007 tidak ada lagi transmisi virus AI dari unggas ke manusia.

Di Kamboja penyuluhan dan kampanye flu burung sangat intensif dilakukan di 12 provinsi, baik melalui televisi, radio dan koran. Kampanye tidak hanya dilakukan petugas peternakan namun juga melibatkan para tokoh agama (Budha, Kristen dan Muslim). Para tokoh agama sebelumnya mendapatkan informasi seputar flu burung dari instansi terkait, dan nantinya merekalah yang menyampaikan kepada umatnya masing-masing.

Catatan Akhir

Mengingat pentingnya peran ayam kampung sebagai sumber pendapatan, aset biologis dan sumber protein hewani bagi masyarakat (asal daging dan telur) bagi masyarakat, maka tindakan pemusnahan ayam kampung tidak boleh dilakukan secara sembrono. Pemusnahan hanya boleh dilakukan pada unggas yang positif terinfeksi AI. Vaksinasi AI dapat dilakukan sebagai strategi komplementer upaya biosekuriti untuk mencegah penyebaran virus AI. Kampanye vaksinasi AI dan edukasi publik tentang wabah flu burung harus terus dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit flu burung.
Agaknya, tidak fair bila kegagalan kita dalam menangani penularan flu burung di Indonesia lantas dengan tergesa-gesa disimpulkan bahwa ayam kampung adalah tertuduh utama yang harus dimusnahkan. Mengapa ayam kampung yang menjadi ‘kambing hitam’ mewabahnya kembali flu burung di tanah air?. Akhirnya pantaslah penulis menyatakan: “ayam kampung; ayamku sayang, ayamku malang”. ***

Penulis,


DR. A. Rusfidra, S.Pt
(Pemerhati Peternakan, Chairman Cendekia Publishing Bogor).

Menyambut Jakarta Bebas Flu Burung
Mengapa Ayam Kampung Dimusnahkan?

Oleh: DR. A. Rusfidra, S.Pt
(Penulis adalah Pemerhati Peternakan, Chairman Cendekia Publishing Bogor)

“Negeri yang kaya ternak, tidak pernah miskin.
Negeri yang miskin ternak, tidak pernah kaya”.

(Campbell dan Lasley, 1985)

Untuk memutus rantai penyebaran virus avian influenza (AI) di DKI Jakarta, Gubernur Sutiyosos mengeluarkan Peraturan Gubernur No 5 tahun 2007 tentang larangan memelihara unggas non- kemersial di lingkungan pemukiman. Gubernur Sutiyoso bahkan memberi batas waktu hingga tanggal 1 Februari 2007 agar masyarakat memusnahkan sendiri unggas non-komersil milik warga, baik dengan cara dikonsumsi ataupun dijual.

Asumsinya adalah bahwa ayam kampung, itik dan burung dara adalah tertuduh,- sebagai vektor virus AI. Karena itu, unggas non-komersil tersebut tidak berhak hidup di ibukota. Pendeknya, ibu kota negara harus steril dari ayam kampung, itik dan burung dara, kecuali unggas hias yang dimiliki oleh para pejabat dan orang kaya. Konon Bang Yos kini memelihara ayam pelung, ayam bekisar dan burung berkicau di belakang rumahnya. Unggas hias milik Gubernur DKI tentu tidak boleh dimusnahkan, dan anak buahnya cukup memberikan sertifikasi kepada unggas hias miliknya. Ini adalah sebuah ketidakadilan yang dipertontonkan secara kasat mata.

Konon mulai 1 Februari 2007 aparat pemerintah DKI Jakarta akan bertindak tegas dan memusnahkan unggas non-komersil. Asumsi Sutiyoso adalah dengan bebasnya Jakarta dari ayam kampung, itik dan burung dara, maka ibukota akan bebas dari flu burung, sehingga tidak ada waga kota yang terinfeksi virus AI. Sebuah cara berpikir sederhana dari seorang pemimpin. Sebuah cara berpikir yang terkesan menggampangkan persoalan dan tidak memiliki argumentasi ilmiah akurat. Bagaimana mungkin ia bisa menjamin daerahnya bebas flu burung, meskipun semua ayam kampung dan itik dimusnahkan di Jakarta?.

Informasi terbaru ternyata virus AI juga ditemukan pada kucing, anjing dan lalat. Studi Prof. Wasito dan Prof. Hastari (dosen FKH UGM) menyebutkan bahwa lalat diduga merupakan vektor penting penularan virus AI yang perlu diawasi. Oleh karena itu, seharusnya Sutiyoso perlu menyatakan perang terhadap lalat. Saat ini yang perlu dilakukan adalah upaya publik edukasi agar masyarakat dapat memelihara unggasnya secara sehat dan tidak tertular virus AI, bukan memusnahkannya.

Dampak Flu Burung

Wabah Penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI) sub-tipe H5N1 kembali merebak di tanah air. Kini, seluruh negara di dunia bersiap menghadapi kemungkinan munculnya pandemi global (terjadinya wabah dalam waktu bersamaan dalam wilayah yang luas). Namun, di dalam negeri penanganan wabah AI terkesan serabutan dan sangat reaktif, padahal transmisi virus AI terus terjadi dan korban manusia makin bertambah. Hingga kini penderita flu burung terdapat di sembilan provinsi. Korban terbanyak terdapat di Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Hingga tanggal 29 Januari 2007 virus AI telah merenggut 62 nyawa manusia di Indonesia dari 80 orang positif terinfeksi AI. Berdasarkan jumlah korban meninggal, Indonesia adalah negara dengan korban terbanyak dengan tingkat kematian 80%. Bahkan, Indonesia juga memiliki jumlah family cluster terbesar, sebanyak 7 cluster. Kasus cluster AI terbesar di dunia terjadi di Desa Kubu Simbelang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Pandemi influenza pada tahun 1918 disebabkan oleh virus “influenza Spanyol” menewaskan 20 juta orang (Webster et al. 1999). Korban meninggal pada umumnya berusia antara 15-45 tahun (Reid et al. 2000).
Untuk kasus Indonesia, berdasarkan tempat tinggal korban, Soeroso (2006) menyatakan bahwa dari 48 kasus di Indonesia, sekitar 44% tinggal di pedesaan, 29% tinggal di pinggiran perkotaan dan 27% tinggal di perkotaan. Menurut jenis pekerjaan (n=48) maka distribusi pekerjaan korban AI adalah sebagai berikut: anak-anak (11 orang), pelajar (10 orang), pekerja kandang unggas (4 orang), penjual ayam di pasar tradisional (2 orang), pekerja non-farm (14 orang), petani (1 orang) dan belum teridentifikasi (6 orang). Berdasarkan data UNICEF (2006) sekitar 50 persen manusia positif terinfeksi virus AI adalah anak-anak, dan 30 persen korban meninggal adalah anak-anak. Anak-anak lebih rentan terinfeksi virus AI, meskipun hingga kini belum ada riset yang dapat menjelaskannya.

Musnahnya Ayam Kampung

Dalam penanganan flu burung, pemerintah bertindak bagaikan “pemadam kebakaran”, “hanya memadamkan api saat api meletup”. Belum terlihat adanya upaya sistemik dalam penanganan flu burung. Sebagai misal, hingga kini pemerintah belum atau tidak dapat menjelaskan dari mana keluarga Iwan Siswara tertular virus AI, pada hal Iwan tidak memelihara unggas di rumahnya.

Oleh karena itu, kita berharap kepada para pengambil kebijakan untuk berhati-hati bila berniat memusnahkan ayam kampung, itik dan burung dara dari pemukiman. Sebaiknya dilakukan riset yang akurat sebelum kebijakan tersebut diambil, termasuk menghitung dampak sosial, ekonomi dan biologinya. Sebabnya adalah ayam kampung dan itik merupakan aset biologis dan sejak lama hidup berdampingan dengan manusia. Bahkan nama ayam kampung diberikan karena ayam ini hidup di perkampungan dimana manusia bermukim.
Saat ini populasi ayam kampung nasional sekitar 300 juta ekor yang tersebar di seluruh penjuru negeri dan dipelihara secara sederhana di halaman belakang rumah (backyard farming) oleh petani dan peternak kecil. Bila rata-rata satu rumahtangga memelihara 10 ekor, maka populasi ayam kampung terdapat pada sekitar 30 juta rumahtangga di negeri ini.

Tidak hanya itu, ayam kampung terbukti berperan penting sebagai sumber pendapatan, tabungan hidup, sumber uang tunai pada saat kebutuhan mendesak, sebagai jaminan bila usahataninya gagal panen dan sumber protein hewani yang tersedia secara murah dan terjangkau bagi masyarakat berpendapatan rendah. Karena itu, rencana pemerintah memusnahkan ayam kampung dan itik diperkirakan akan berdampak serius terhadap ketahanan ekonomi rumahtangga dan ketahanan pangan hewani peternak ayam kampung.

Ketahanan pangan hewani

Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk hidup sehat. Konsumsi pangan hewani (daging dan telur) masyarakat Indonesia masih sangat rendah (6 gram/kapita/hari), sedangkan konsumsi masyarakat dunia sudah mencapai 26 gram/kapita/hari. Bila ditelisik lebih dalam, konsumsi daging unggas masyarakat Indonesia pada tahun 2000 hanya 3,5 kg/kapita/tahun, lebih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi masyarakat Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg) (Poultry International, 2003). Masyarakat Indonesia baru mengkonsumsi daging unggas 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia mencapai 100 gram/kapita/hari.
Konsumsi telur masyarakat Indonesia juga sangat rendah, yakni sebesar 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan masyarakat Malaysia 14,4 kg/kapita/tahun, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila rata-rata satu kilogram telur terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur masyarakat Indonesia baru 46 butir/kapita/tahun. Artinya, setiap orang Indonesia baru mengkonsumsi 1 butir telur setiap 8 hari sekali. Padahal penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan telur sebanyak 245 butir atau rata-rata 2 butir telur dalam tiga hari sekali.

Kebijakan memusnahkan ayam kampung dan itik dari pemukiman diperkirakan akan berdampak serius terhadap ketahanan pangan hewani masyarakat. Dampak berikutnya adalah terjadinya kasus busung lapar dan akan lahir anak bangsa yang memiliki IQ rendah, karena defisiensi protein hewani.

Langkah Praktis

Dalam Simposium Internasional Penanggulangan Flu Burung yang berlangsung di Jakarta tanggal 19-20 Juli 2006, Naipospos (2006) menyebutkan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pandemi flu burung. Strategi tersebut antara lain: melakukan vaksinasi AI pada ternak unggas terutama di tempat mewabahnya AI, melakukan tindakan biosekuriti secara ketat dilingkungan usaha peternakan unggas, dan melakukan surveilans serta edukasi publik terhadap penyakit flu burung. Vaksinasi merupakan salah satu kunci dalam pengendalian flu burung. Vaksinasi AI dapat meningkatkan kekebalan unggas dan mencegah meluasnya transmisi virus AI.

Pengalaman Thailand dan Kamboja

Sebaiknya kita belajar dari pengalaman negara Thailand dan Kamboja dalam penanganan flu burung. Di Thailand pengendalian flu burung melibatkan 13 departemen,- termasuk departemen Pertahanan, dan 2 juta orang relawan. Para relawan mendatangi rumah ke rumah untuk memeriksa unggas masyarakat, mencari unggas sakit dan memusnahkanya. Kampanye juga dilakukan di pasar-pasar unggas. Tentara dan polisi dikerahkan untuk membantu peternak melakukan culling di daerah terinfeksi AI dan mengawasi pergerakan ayam hidup dan produk unggas dari suatu tempat ke tempat lainnya. Thailand menerapkan tiga strategi, yaitu (1) Melakukan surveilans secara intensif dengan menggunakan sinar-X, (2). Memberikan kompensasi yang memadai pada peternak yang unggasnya dimusnahkan, yakni sebesar 75% dari harga jual unggas, dan (3). Melakukan pengawasan terhadap pergerakan unggas di dalam negeri. Targetnya adalah pada akhir tahun 2007 tidak ada lagi transmisi virus AI dari unggas ke manusia.

Di Kamboja penyuluhan dan kampanye flu burung sangat intensif dilakukan di 12 provinsi, baik melalui televisi, radio dan koran. Kampanye tidak hanya dilakukan petugas peternakan namun juga melibatkan para tokoh-tokoh agama (Budha, Kristen dan Muslim). Para tokoh-tokoh agama tersebut sebelumnya mendapatkan informasi seputar flu burung dari instansi terkait, dan nantinya merekalah yang menyampaikan kepada umatnya masing-masing.

Catatan Akhir

Mengingat pentingnya peran ayam kampung dan itik sebagai sumber pendapatan, aset biologis dan sumber protein hewani bagi masyarakat (asal daging dan telur) di segala lapis usia, maka tindakan pemusnahan ayam kampung dan itik harus dilakukan secara bijaksana. Pemusnahan hanya boleh dilakukan pada unggas yang positif terinfeksi AI.


DR. A. Rusfidra, S.Pt
(Pemerhati Peternakan, Chairman Cendekia Publishing Bogor).

Thursday, October 19, 2006

Islam dan Sains

Islam dan Sains

Oleh Dr. A. Rusfidra
(dimuat di www.sumbarprov.go.id)


“.. adakah sama orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?. Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran”
(QS. Az Zumar [39]: 9).

Pada dasarnya tidak ada dikotomi (pemisahan) antara ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan (sains). Oleh karena itu adalah keliru pendapat yang memisahkan pengetahuan agama disatu sisi dengan sains di sisi lain. Sebagai agama universal, Islam yang di bawa Nabi Muhammad saw sangat menekankan penggunaan akal pikiran (rasio) dalam melakukan aktivitas apapun termasuk mengerjakan ibadah sekalipun. Akal dan pikiran yang dimiliki manusia hendaknya digunakan untuk mengadakan observasi dan perenungan yang mendalam, baik terhadap diri manusia itu sendiri maupun terhadap segala fenomena alam dan semua bentuk kehidupan yang ada dimuka bumi. Di dalam Al Qur’an terdapat banyak sekali ayat yang menjelaskan fenomena iptek sebagai bukti kekuasaan Allah. Ayat-ayat tersebut umumnya menantang manusia untuk menggunakan akal pikiran untuk mengungkap kebenaran ilahiah.

Menurut Dr. Yusuf Qordhowi, antara ilmu agama (ajaran Islam) dengan ilmu pengetahuan umum ibarat dua sisi mata uang yang saling mendukung dan menguatkan. Keduanya saling memerlukan dan tidak dapat dipisahkan. Seorang ilmuan Barat berkata “Agama tanpa ilmu buta, ilmu tanpa agama lumpuh”. Konsep Islam tentang ilmu pengetahuan sangat berbeda dengan konsep negara sekuler yang memisahkan secara tegas antara agama dengan sains.

Ketiadaan dikotomi antara ajaran agama dengan sains tidak hanya dibuktikan oleh ilmuan muslim tetapi juga dikemukakan oleh ilmuan sekuler dari Barat. Horten, seorang ilmuan Barat berpendapat bahwa hanya dalam ajaran Islam terdapat keterpaduan antara ilmu pengetahuan agama dengan sains. Menurut Islam, ajaran agama harus menjadi kendali dalam pencarian dan pengembangan sains untuk kemaslahatan umat, dan sebaliknya kemajuan sains harus senantiasa berbasis kepada sumber ajaran Islam (Al Qur’an dan As Sunnah), sehingga temuan-temuan sains adalah temuan yang terbimbing dan tidak melenceng dari ajaran mulya tersebut.

Sebagai agama yang sangat menghormati ilmu pengetahuan, Islam memposisikan para ilmuan pada tempat yang tinggi (QS. Al Mujadillah: 11), melebihi derajat ahli ibadah yang tidak berilmu. “.. Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”. Karena itu Rasulullah Muhammad saw selalu menyuruh setiap pribadi muslim baik laki-laki maupun wanita untuk menuntut ilmu dari buaian sampai ajal tiba. Orang yang pergi menuntut ilmu dipandang sebagai fisabilillah sampai dia kembali. Perjalanan menuntut ilmu harus dilakukan walau sampai ke negeri China sekalipun, karena ilmu adalah milik kaum muslimin yang harus dipungut (Al Hadis).

Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang berkaitan dengan dunia iptek yang memerlukan penelahan secara rasional. Tanpa berpikir manusia tentu tidak mampu menjawab tantangan tersebut. Sebagai contoh, penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam hanya bisa diungkap dengan menggunakan akal pikiran (QS. Ali Imran: 190-191); “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau diam atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Begitu pula fenomena keanekaragaman hewan, tumbuhan dan penciptaan diri manusia sendiri menyimpan banyak rahasia dan hanya mampu disingkap oleh kaum yang berpikir (ulil albab). Tanpa ilmu, manusia akan kesulitan memahami fenomena yang terjadi di luar dirinya, bahkan tanpa ilmu manusia akan mengalami kesulitan mengenal dirinya sendiri. Padahal upaya mengenal diri sendiri secara utuh merupakan salah satu metode untuk mengenal Allah SWT (makrifatullah). “Siapa orang mengenali dirinya, ia akan mengenali Tuhannya”.

Kitab suci Al Qur’an merupakan sumber segala sumber sains. Itulah sebabnya Al Qur’an diibaratkan sebagai sumber mata air ilmu pengetahuan yang tak pernah kering. Semakin digali semakin membuat manusia terpesona akan ke-Mahakuasaan Allah menciptakan seluruh makhluk di alam ini. Penemuan-penemuan riset moderen pada prinsipnya semata-mata merupakan pembuktian terhadap kebenaran Al Qur’an. Jadi beruntunglah sebenarnya umat Islam yang selalu menggali iptek bersumber pada Al Qur’an. Selayaknya kaum muslimlah yang menjadi trend setter (penentu kecendrungan) perkembangan iptek, sebagaimana telah dibuktikan oleh Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al Jabbar, Abdussalam dan banyak ilmuan muslim terdahulu yang pernah meramaikan khasanah perkembangan ilmu pengetahuan.

"IKATLAH IMU DENGAN MENULISKANNYA"

Dr. A. Rusfidra
(alumni S3 IPB)

Wednesday, October 18, 2006

Gila Gelar, Gelar Gila

Gila Gelar, Gelar Gila

Oleh : Dr. A. Rusfidra
(Alumnus S1-S2 (UNAND) dan S3 (IPB)
(dimuat di www.bung-hatta.ac.id)

Ditengah kondisi pendidikan nasional yang carut marut, belakangan media masa marak memberitakan soal gelar instan yang diobral oleh lembaga Institut Manajemen Global Indonesia (IMGI). Konon, sejak tahun 1997 hingga Mei 2004 IMGI telah memberikan gelar mulai dari sarjana, magister, doktor bahkan profesor kepada 9.273 orang (Kompas, 25/8/2005). Maraknya jual beli gelar palsu menarik dikomentari karena ia berhubungan dengan aspek hukum dan kultural. Karena itu baik lembaga penjual gelar maupun pengguna gelar harus ditertibkan karena melanggar ketentuan UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Selain itu, pengguna gelar telah melecehkan proses pembelajaran dan bahayanya berikutnya adalah bila cara mendapatkan gelar palsu ini ditiru oleh generasi muda, sehingga timbul anggapan bahwa tanpa belajarpun ia dapat gelar akademik.

Untuk mendapatkan gelar ‘gila’ dari lembaga pimpinan Luke Comey (warga AS), peminat hanya cukup membayar sejumlah uang, yakni Rp. 10 juta untuk gelar S1, Rp. 15 juta untuk gelar S2 dan Rp. 20 - 25 juta untuk gelar S3. Setelah itu Anda dapat ikut wisuda untuk mendapatkan selembar ‘ijazah’. Anehnya penerima gelar instan ini berasal dari beragam profesi, mulai dari mantan pejabat negara, politisi, artis, tokoh masyarakat hingga paranormal. Mereka seharusnya menghormati proses pembelajaran. Meskipun tidak memiliki tranksrip nilai, karena memang tidak ada proses perkuliahan, peminat langsung dapat diwisuda.

Sebenarnya sertifikat yang mereka terima tidak dapat disebut ijazah, karena menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ijazah itu adalah surat bukti tamat belajar dari suatu program pendidikan.

Artikel ini menguraikan serangkaian tahap perkuliahan yang harus diikuti seorang mahasiswa program S3 sebelum ia dinyatakan berhak memperoleh gelar doktor. Hal ini merupakan pengalaman penulis dalam mengikuti program S3 pada program studi ilmu ternak, dengan peminatan utama bidang genetika dan pemuliaan ternak di Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Alhamdulillah, penulis dapat merampungkan program doktor pada bulan Agustus 2004, saat penulis berumur 33 tahun.

Profesi Pengajar

Menurut Andi Hakim Nasution (2002) kata doktor berasal dari kata ‘docterum’ yang berarti guru, sedangkan istilah magister berasal dari kata ‘magister’ yang berarti guru. Istilah doktor dan magister mulanya dikenal di Prancis pada pertengahan abad ke-12. Pada abad 13 kota Bologna menjadi pusat kajian hukum sipil dan hukum gereja. Guru-gurunya disebut doktor. Saat itu, kota Paris dikenal menonjol sebagai pusat kajian kiat dan guru-gurunya disebut magister. Sedangkan profesor merupakan gelar jabatan fungsional seorang guru besar yang mengajar di perguruan tinggi.

Gelar guru besar merupakan bentuk pengakuan terhadap seorang ilmuwan yang memiliki penguasaan keilmuan tertentu. Gelar guru besar hanya dapat diberikan oleh universitas, institut atau sekolah tinggi (Pasal 23 ayat (1) UU No 20/2003 tentang Sisdiknas). Gelar guru besar hanya boleh dipakai sepanjang yang bersangkutan aktif bekerja sebagai pendidik di perguruan tinggi (Pasal 23 ayat (2) UU No 20/2003 tentang Sisdiknas).

Jadi, gelar magister, doktor dan profesor sejatinya hanya tepat digunakan oleh seorang guru (pengajar). Namun sekarang, orang berebut menjadi magister, doktor bahkan profesor dengan cara instan, lewat jual beli gelar akademik, tetapi mereka tidak mampu mengajar di perguruan tinggi. Karena tergila-gila pada gelar akademik, maka marak pula lembaga penjual gelar ‘gila’.

Butuh Proses Belajar

Program Magister Sains biasanya berlangsung selama 4 semester (2 tahun) dan harus mengumpulkan 39-50 SKS setelah pendidikan sarjana. Disamping kegiatan perkuliahan, mahasiswa juga harus melaksanakan penelitian untuk menulis tesis. Setelah lulus ujian akhir, seseorang dinyatakan berhak menyandang gelar Magister Sains (MSi). Selama program MS mahasiswa dibimbing oleh 2-3 orang dosen pembimbing yang bertugas membantunya dalam merencanakan perkuliahan, penelitian, pelaksanaan penelitian dan penulisan tesis.

Doktor merupakan gelar akademik yang diberikan kepada seseorang lulusan program pendidikan doktor (S3) dari universitas, institut atau sekolah tinggi formal yang menyelenggarakan program pendidikan S3. Gelar doktor adalah gelar akademik tertinggi yang dapat diberikan pendidikan tinggi formal.

Pada umumnya pendidikan doktor dapat diikuti setelah menyelesaikan pendidikan Magister Sains. Program S3 memiliki bobot minimal 40 SKS di atas program MS, termasuk penelitian dan disertasi. Gelar doktor diberikan setelah ia berhasil memenuhi persyaratan kuliah (minimal 26 SKS), lulus ujian prakualifikasi (preliminary), penelitian, penulisan disertasi, seminar hasil serta berhasil mempertahankan disertasi dalam ujian tertutup dan ujian terbuka di depan sidang penguji program doktor di universitas atau institut.

Ujian prakualifikasi dimaksudkan untuk menjamin penguasaan ilmu minimal sebelum melakukan penelitian. Ujian prakualifikasi bertujuan untuk menjamin penguasaan metodologi penelitian dibidang ilmunya, penguasaan materi bidang ilmu, kemampuan penalaran, kemampuan mengadakan abstraksi dan ekstrapolasi, dan kemampuan sistematis dan perumusan hasil penelitian.

Pengalaman penulis mengikuti ujian prakualifikasi di IPB, kita bagaikan duduk sebagai “pesakitan”, diberondong dengan pertanyaan oleh tim penguji yang terdiri dari tiga orang guru besar senior di IPB. Bila tidak mampu menjawab pertanyaan dengan baik, penguji enteng saja menyeletuk, “itu saja Anda tidak bisa menjawab”. Suasana tersebut kadang membuat merah telinga. Setelah lulus ujian prelim yang berlangsung selama 3 jam, maka penulis dinyatakan sebagai kandidat doktor dan dapat melanjutkan pendidikan S3 dan melakukan penelitian. Bila nasib kurang beruntung, biasanya seseorang diberikan kesempatan mengikuti ujian prakualifikasi kedua. Bila pada ujian kedua juga tidak lulus, maka studi S3 dinyatakan selesai alias drop out (DO).

Berikutnya mahasiswa harus melakukan penelitian yang melelahkan, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Kondisi ini kadang-kadang juga membuat stres. Setelah berkonsultasi dengan para dosen pembimbing, maka penulis diizinkan melaksanakan seminar hasil, ujian tertutup dan ujian terbuka. Pada ujian tertutup, untuk kedua kalinya penulis bagaikan duduk di “kursi panas” menghadapi pertanyaan kritis dari tim penguji atas disertasi yang disusun. Tidak jarang pertanyaan yang diajukan membuat telinga merah. Hasilnya adalah lulus.

Setelah lulus ujian tertutup, penulis bersiap-siap mengikuti ujian akhir studi doktor. Di IPB ujian akhir disebut ujian terbuka yang diselenggarakan oleh senat IPB yang dipimpin oleh rektor atau pejabat yang mewakilinya. Disebut ujian terbuka karena sifat ujian ini terbuka untuk umum dan boleh dihadiri oleh siapapun yang berminat dengan penelitian sang kandidat. Pada kesempatan ini biasanya hadir keluarga dekat, sanak famili, teman-teman dan hadirin yang berminat. Ujian terbuka dapat pula disebut sebagai upacara pengukuhan gelar doktor.

Tim penguji ujian terbuka terdiri dari dosen pembimbing, penguji luar komisi, penguji dari program studi dan pakar lain sebidang anggota senat institut yang bergelar doktor. Saat inilah untuk ketiga kalinya penulis bagaikan duduk sebagai “pesakitan”. Duh betapa malunya bila tidak mampu menjawab pertanyaan penguji dengan baik. Penilaian disertasi didasarkan pada orisinalitas (keaslian) dan sumbangannya terhadap bidang ilmu, kecanggihan metodologi dan pendekatan penelitian, kedalaman penalaran dan penguasaan dasar teori, kecanggihan dan sistematika pemikiran serta kecermatan perumusan masalah, batasan penelitian dan kesimpulan.

Bila dinyatakan lulus, maka pada akhir sidang terbuka institut, pimpinan sidang menyatakan “Setelah mempertimbangkan masukan dari tim penguji maka saudara dinyatakan telah lulus program studi doktor. Gelar doktor adalah gelar akademik tertinggi yang diberikan pendidikan tinggi formal”. Sejak itulah penulis berhak mencantumkan gelar Dr. didepan nama. Sejak itu pula terbayar sudah perjuangan panjang nan melelahkan meraih gelar doktor. Sejak itu pula penulis menyadari tidak mudah meraih gelar doktor, paling tidak, tak semudah mendapat gelar ‘doktor instan’ yang belakangan terkuak di media masa.

Disamping gelar doktor melalui pendidikan S3 formal, sebuah universitas, institut atau sekolah tinggi dapat memberikan gelar doktor honoris causa (disingkat Dr. Hc) kepada seseorang yang dipandang memiliki kompetensi keilmuan yang tinggi dalam bidang yang digelutinya. Di dalam Pasal 20 UU No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas disebutkan bahwa: “Universitas, institut dan sekolah tinggi yang memiliki program pendidikan doktor berhak memberikan gelar doktor kehormatan (doktor honoris causa) kepada setiap individu yang layak memperoleh penghargaan berkenaan dengan jasa-jasanya yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kemasyarakatan, kebudayaan dan seni. Sebagai contoh dapat disebutkan beberapa tokoh nasional yang pernah menerima gelar Dr. Hc, misalnya Bapak Tarmizi Taher (dari UIN Jakarta), Taufik Ismail (dari UNY Yogyakarta) dan Siswono Yuduhusodo (dari UNJ Jakarta).

Catatan Akhir

Agar program jual beli gelar akademik tidak makin meluas kita berharap kepada aparat kepolisian untuk menertibkan penggunaan gelar instan ini. Hukuman yang setimpal harus diberikan pada pengguna gelar ilegal dan lembaga penyelenggaranya, sebagaimana dinyatakan di dalam pasal 67 sampai 69 UU No 20/2003 tentang Sisdiknas. Semoga.

"IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA"

Aspek Biologi Lebah Madu

Aspek Biologi Lebah Madu

Oleh: Dr. A. Rusfidra

Lebah madu adalah serangga sosial yang hidup dalam suatu keluarga besar yang disebut koloni, yang biasanya mendiami satu sarang lebah (Sihombing, 1997). Hal ini berbeda dengan pola hidup kebanyakan spesies serangga yang bersifat soliter (senang menyendiri) (Dietz, 1986). Lebah madu merupakan serangga sosial yang paling banyak diketahui dan menarik untuk dipelajari (Wilson, 1971).

Di dalam satu koloni terdapat seekor lebah ratu (queen) sebagai pemimpin koloni, ratusan lebah jantan (drone) dan puluhan ribu lebah pekerja (worker). Biasanya koloni lebah terdiri dari seekor ratu, 20.000 – 30.000 lebah pekerja dan beberapa ratus lebah jantan (Free, 1982; Singh, 1962). Selain itu juga terdapat telur, larva dan pupa. Siklus hidup masing-masing strata dalam koloni lebah terlihat pada Tabel 1.

Lebah Ratu (Queen)

Di dalam satu koloni lebah hanya terdapat seekor ratu, badannya paling besar dalam koloni. Lebah ratu berasal dari sel telur yang dibuahi (Free, 1982). Ovariumnya berkembang sempurna dan mampu menghasilkan telur yang akan menetas menjadi calon ratu, lebah pekerja dan lebah jantan (Sihombing, 1997). Ratu Apis mellifera mampu menghasilkan telur sebanyak 2.000 butir per hari (Free, 1982). Dalam satu koloni hanya terdapat satu ratu. Jika ada telur yang berkembang menjadi calon ratu, biasanya calon ratu harus keluar dari koloni dan membentuk koloni baru, jika tidak dibunuh oleh si ratu tua. Menariknya, walaupun lebah menghasilkan madu, tetapi ratu lebah tidak mau dimadu.

Lebah ratu hanya kawin sekali selama hidupnya (Singh, 1962; Sihombing, 1997). Prosesi perkawinan dengan beberapa ekor lebah jantan terjadi di angkasa pada siang hari saat udara cerah di lokasi tempat kawin yang disebut Drone Congregation Area (DCA). DCA merupakan tempat berkumpulnya lebah jantan (Koeniger, 1991).

Lebah ratu memiliki mata majemuk yang paling kecil dibanding dengan lebah pekerja maupun lebah jantan. Di ujung kepalanya terdapat antena yang berbentuk cincin berjumlah 11 buah dan perut terdiri atas 6 segmen (Murtidjo, 1991). Perkembangan lebah ratu mulai dari telur sampai dewasa adalah 15 hari dan setelah itu siap dikawini oleh lebah jantan (Pavord, 1975).

Lebah Jantan (Drone)

Dietz (1986) menyatakan bahwa lebah jantan merupakan anggota koloni dari kehidupan sosial lebah madu yang berasal dari telur-telur yang tidak dibuahi (unfertilized). Jumlahnya dalam koloni berkisar dari beberapa puluh sampai beberapa ratus ekor. Ukuran tubuh lebah jantan lebih besar dari lebah pekerja, tetapi lebih kecil dari lebah ratu. Fungsi lebah jantan dalam koloni sepanjang hidupnya adalah sebagai lebah pemacek, yakni mengawini ratu muda (Free, 1982). Seekor lebah jantan hanya dapat kawin sekali selama hidupnya, karena setelah berhasil mengawini ratu, lebah ini akan mati.

Lebah jantan adalah lebah pemalas dan pemakan yang rakus. Mereka hanya mau keluar dari sarangnya jika cuaca cerah dan akan terbang untuk tiga tujuan yaitu: terbang untuk membersihkan tubuh (cleansing flight), terbang orientasi dan mengawini ratu (mating flight) dan saat terjadinya pemisahan koloni (swarming flight) (Koeniger, 1991). Karena sifatnya yang pemalas itu, pada musim peceklik banyak lebah jantan yang dibunuh oleh lebah pekerja. Pada banyak koloni, lebah jantan sering dihasilkan (ditetaskan ratu) pada bulan Mei sampai Juli (Free, 1982) atau pada saat musim bunga.

Lebah Pekerja (Worker)

Lebah pekerja merupakan kelompok yang jumlahnya paling besar dalam koloni. Sama halnya dengan lebah ratu, lebah pekerja juga berasal dari sel telur yang dibuahi sebagaimana dilaporkan Dietz (1986); Free (1982). Dalam satu koloni lebah madu A. cerana jumlahnya bisa mencapai 30.000 ekor dan 60.000 ekor pada koloni A. mellifera (Murtidjo, 1991). Lebah pekerja adalah lebah betina yang organ reproduksinya tidak berkembang sempurna dan tidak dapat menghasilkan telur pada kondisi normal (Gojmerac, 1983; Sihombing, 1997; Singh, 1962).

Lebah pekerja bertanggungjawab penuh terhadap keutuhan dan kesejahteraan koloni (Singh, 1962; Free, 1982), Kecuali tugas reproduksi, semua pekerjaan pada koloni lebah madu sepenuhnya dilakukan oleh lebah pekerja. Dipandang dari tempat berlangsungnya aktivitas dalam koloni lebah madu dapat digolongkan atas dua fase yaitu: (1) tugas di dalam sarang pada separo umurnya yang pertama dan (2) tugas di luar sarang pada separo umur berikutnya (Singh, 1962).

Tugas di dalam sarang yang berlangsung selama 3 minggu meliputi pembuatan sisiran sarang, pemeliharaan telur, larva dan pupa, penyediaan makanan ratu dan lebah jantan, menyisir dan merawat ratu, mempertahankan koloni dari serangan pemangsa, mengatur temperatur dan kelembaban dalam sarang serta mematangkan dan menyimpan madu (Sihombing, 1997; Singh, 1962), sedangkan tugas di luar sarang yang berlangsung selama 4 minggu (Direksi Perum Perhutani, 1992) adalah mengumpulkan nektar, polen, propolis dan air (Singh, 1962).
dengan perkembangan kelompok umur, sebagai berikut: dari mulai menetas sampai umur tiga hari sebagai petugas kebersihan. Umur 3 – 6 hari bertugas sebagai perawat larva dan dilanjutkan sampai umur 12 hari.

Sejak hari ke-13 sampai 18 bertugas membuat dan memoles sisiran sarang dan menerima bahan makanan yang dibawa lebah lapang (lebah pekerja). Mulai umur 18 sampai 20 bertindak sebagai pengawal serta menjaga kesegaran udara di dalam sarang. Mulai hari ke-20 sampai datangnya kematian lebah bertugas di luar sarang sebagai pengumpul nektar, polen, propolis dan air, dan dimasa tuanya, lebah pekerja lapang akan berperan sebagai pemandu bagi lebah muda untuk mencari lokasi pengumpulan nektar, polen, propolis dan air.

Lama hidup lebah pekerja dipengaruhi oleh musim dan aktivitas menyengat. Pada musim panas lebah ini hidup selama 4–6 minggu, sedang pada musim dingin dapat mencapai beberapa bulan (Free, 1982). Menurut Gojmerac (1983), lama hidup lebah pekerja bervariasi antara 44 – 54 hari (rataan 50 hari). Setelah menyengat musuhnya lebah pekerja akan mati.


Sistem Perkawinan Lebah

Lebah ratu hanya sekali kawin selama hidupnya (Singh, 1962; Sihombing, 1997). Prosesi perkawinan dengan satu atau lebih lebah jantan terjadi di tempat terbuka (angkasa), pada waktu musim kawin di tempat yang disebut DCA (Drone Congregation Area). Lokasi DCA yang mempunyai diameter antara 30-200m (Ruttner, 1986) merupakan tempat berkumpulnya lebah jantan dan diperkirakan selalu dikunjungi oleh lebah jantan terus menerus untuk waktu 15-20 tahun (Koeniger, 1986; 1991). Selain perkawinan secara alami ditempat terbuka juga telah dicoba memanipulasi tempat perkawinan dengan cara mengurung ratu pada tempat khusus serta perkawinan dengan inseminasi buatan. Upaya terakhir ini masih menjadi topik pengamatan oleh banyak peneliti.

Pada saat musim kawin ratu dikawini oleh seekor lebah jantan atau lebih (mencapai 30 ekor) (Moritz, 1986), yang terjadi selama satu terbang perkawinan (mating flight). Sebelum lebah jantan berhasil mengawini lebah ratu, lebah jantan akan terbang orientasi yang berlangsung selama 1 – 2 menit (Koeniger, 1991).

Waktu lebah jantan terbang untuk mengawini lebah ratu pada spesies A. cerana yang berkembang di beberapa lokasi terdapat perbedaaan. Lebah jantan A. cerana di Srilangka terbang kawin antara pukul 15.30-17.00, di Kalimantan antara pukul 14.00-15.30, di Thailand terbang kawin terjadi antara pukul 14.30-16.00 (Koeniger, 1991), antara pukul 15.15 – 17.30 (Rinderer et al., 1993). Sedangkan lebah jantan A. c. japonica (lebah lokal Jepang) mempunyai waktu terbang yang lebih panjang untuk mengawini ratu yakni dari pukul 13.15-16.15 (Koeniger, 1991).

Lebah ratu biasanya terbang untuk kawin pada saat puncak lebah jantan terbang. Sebelum terbang kawin, ratu sering memperlihatkan terbang orientasi yang berlangsung selama dua menit. Lebah ratu A. florea dikawini antara pukul 14.04-15.35 yang berlangsung selama 21-30 menit. Ratu A. cerana di India terbang antara pukul 13.30-15.30 dan perkawinan terjadi antara pukul 14.00-15.00. Di Srilangka ratu dikawini antara pukul 16.15-16.55 serta di Jepang antara pukul 14.45-16.00 (Koeniger, 1991).

Kantong spermateka lebah ratu A. cerana yang berukuran 0.98 mm dapat menyimpan 1.35 juta spermatozoa dengan konsentrasi sperma dalam spermateka sekitar 2.79 juta spermatozoa per mm. Jumlah spermatozoa dalam spermateka berkorelasi positif dengan ukuran spermateka lebah ratu (Koeniger, 1991).

Mekanisme transfer sperma dari oviduk ke spermateka merupakan proses kompleks (Koeniger, 1991) yang melibatkan banyak faktor, antara lain kondisi otot saluran reproduksi ratu, adanya cairan dalam spermateka serta gerakan massa spermatozoa itu sendiri. Pada spesies Apis pada dasarnya ada dua cara transfer yang berbeda, yakni : (1) introduksi spermatozoa ke dalam oviduk yang diikuti dengan gerakan spermatozoa menuju kantong spermateka dan (2) introduksi spermatozoa secara langsung ke dalam spermateka. Pada A. mellifera dan A. cerana, spermatozoa di introduksikan ke dalam oviduk lebah ratu. Dalam waktu 24 jam setelah perkawinan sekitar 5 juta dari 120 juta sel sperma akan bergerak menuju kantong spermateka pada lebah ratu A. mellifera. Sedangkan pada A. cerana kurang lebih 1.3 juta dari 12 juta sel sperma akan bergerak dari oviduk memasuki kantong spermateka (Koeniger, 1991). Setelah satu kali terbang kawin, oviduk lebah ratu bisa memuat 87 juta spermatozoa (Koeniger, 1986) dan selanjutnya akan disimpan dalam spermateka sampai beberapa tahun.

Untuk menarik lebah jantan agar mengawininya, lebah ratu akan mensekresikan feromon seks yang mengandung 9-oxodeconoic acid (Koeniger, 1991). Zat ini berperan penting dalam memperlihatkan daya tarik pada lebah ratu A. cerana, A. mellifera, A. florea dan A. dorsata, sedangkan pada spesies lain belum ada laporan yang mengungkapkan keberadaan zat tersebut. Setelah kopulasi, pada lebah ratu A. cerana dan A. mellifera juga terlihat adanya lendir putih yang berfungsi sebagai sinyal bahwa telah terjadinya perkawinan.

"IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA"

Menyoal Revitalisasi Pertanian

Menyoal Revitalisasi Pertanian
(Tanggapan buat Hasudungan Sihombing)

Oleh Dr. Ahmad Rusfidra, S, Pt
(sumber: Sinar Harapan, 8 Agustus 2005)

Tulisan Sdr. Hasudungan Sihombing di Sinar Harapan (19/7/2005) menarik dikomentari. Dalam tulisan tersebut terdapat beberapa kekeliruan dalam menafsirkan ruang lingkup pertanian. Juga strategi dan rekomendasi kurang pas. Berkenaan dengan konsep revitalisasi pertanian yang dicanangkan Presiden Yudhoyono, Hasudungan Sihombing agaknya kurang memahami substansi dan makna revitalisasi pertanian, sehingga strategi dan rekomendasi yang diusulkan tidak akurat. Sebagai contoh, pertanian hanya dipersepsikan sebagai usaha pertanian padi, padahal termasuk juga usaha peternakan, perkebunan dan hortikultura. Karena itu, revitalisasi pertanian harus juga menyentuh bidang peternakan, perkebunan dan hortikultura. Karet, kakao dan kelapa sawit memiliki harga jual cukup baik di pasar internasional.

Ada paradoks antara meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan rumah tangga petani sebagaimana yang diajukan Hasudungan Sihombing. Bahkan ia menyatakan tidak mungkin meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani sekaligus. Kesimpulan tersebut masih dapat diperdebatkan. Ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya bahan pangan rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutu, aman dikonsumsi, merata, dan terjangkau untuk hidup pokok. Konsep ketahanan pangan biasanya diukur dalam dua tataran, yakni makro (nasional) dan mikro (rumah tangga).

Ketahanan pangan yang ideal adalah ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga yang memberi prespektif pembangunan sangat mendasar karena: 1) akses pangan dan gizi seimbang bagi seluruh rakyat merupakan hak asasi, 2) pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas sangat dipengaruhi oleh keberhasilan memenuhi kecukupan pangan dan gizi, 3) ketahanan pangan merupakan unsur strategis dalam pembangunan ekonomi dan ketahanan nasional.

”Family Poultry”

Kita dapat menimbang pengalaman negara-negara berkembang dalam merumuskan program pembangunan yang secara simultan berhasil menjaga ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan efektif mengurangi angka kemiskinan melalui peningkatan pendapatan petani. Salah satu program yang layak ditimbang, sebagai sebuah solusi mengatasi terjadinya malnutrisi dan efektif dalam pengentasan kemiskinan, adalah program “Family Poultry” (FP).

Ini program Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia untuk mendukung tersedianya sumber protein hewani, sumber pendapatan dan pengentasan kemiskinan di negara-negara berkembang. Program ini dilakukan di negara-negara sub-Sahara Afrika, Asia Tenggara, Asia Selatan dan Amerika Selatan dengan menjadikan ayam kampung sebagai sumber protein hewani dan pendapatan keluarga. Di Afrika, program FP sangat popular. Sekitar 90% rumah tangga di Afrika memelihara ayam kampung.

Menurut Hasudungan Sihombing satu-satunya cara memperbaiki nasib petani adalah melakukan redistribusi lahan. Tujuannya meningkatkan luas lahan pertanian dari 0,3 ha menjadi 2 ha, sehingga tercapai usaha pertanian yang memenuhi skala ekonomi. Luas lahan sawah yang sempit, menurut Hasudungan, penyebab rendahnya pendapatan petani. Menurut penulis, redistribusi lahan bukan satu-satunya cara memperbaiki nasib petani. Lahan hanyalah salah satu faktor dalam sistem pertanian.

Bila dianggap usaha pertanian sebagai sebuah industri biologis, setidaknya ada empat faktor yang perlu diperhatikan, yaitu petani, tanaman, lahan dan teknologi. Petani merupakan subjek yang harus ditingkatkan pendapatan dan kesejahteraannya. Tanaman merupakan objek yang harus ditingkatkan produksinya. Lahan merupakan tempat dilakukan budidaya tanaman. Teknologi sebagai alat mendukung produktivitas usaha pertanian. Keempat unsur tersebut harus mendapat perhatian simultan, disamping perbaikan kelembagaan di perdesaan.

Bukan Proses Mudah

Redistribusi lahan bukan proses mudah. Sudahkah dirumuskan metode yang tepat dalam membagi-bagikan lahan? Lahan milik siapa yang akan dibagi-bagikan dan siapa yang berhak menerima pembagian lahan tersebut? Pada sebagian besar masyarakat Indonesia tanah masih dianggap bagian dari martabat (harga diri), karena tanah berhubungan erat dengan kehidupan. Redistribusi lahan yang sembrono akan menimbulkan perlawanan dan dapat menyebabkan terjadinya konflik agraria.

Menurut data Badan Pertanahan Nasional (BPN), tahun 2004 terdapat 1.753 konflik agraria, terdiri dari antara lain sengketa masyarakat dengan perusahaan perkebunan, perumahan, kehutanan, pertambangan, turisme, pertambakan dan bendungan (Agusdin Pulungan, 2005). Indonesia negara agraris, berada di daerah tropis dan memiliki tanah subur. Sekitar 50 persen penduduknya bergerak di bidang pertanian, termasuk perikanan, perkebunan, kehutanan dan peternakan.

Mengingat urgennya sektor pertanian, maka program revitalisasi pertanian, perikanan dan kehutanan (RPPK) perlu dihargai sebagai langkah cerdas dalam upaya meningkatkan ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga dan meningkatkan pendapatan petani.Ketika mencanangkan RPPK di Waduk Jatiluhur 11 Juni lalu, Presiden melontarkan empat kebijakan pertanian dan 11 program aktualisasi awal. Keempat kebijakan tersebut adalah: kebijakan umum pertanahan dan tata ruang, pembangunan infrastruktur pedesaan, ketahanan pangan dan perdagangan produk pertanian. Sebelas aktualisasinya antara lain penjaminan kredit untuk petani, pemberian bibit tanaman pangan, pemberian biodiesel, revitalisasi tambak udang, pengolahan rumput laut, mina padi, hutan industri, peningkatan hasil hutan dan jasa berbasis hutan. Revitalisasi pertanian adalah penguatan kembali dan membangun komitmen di sektor pertanian agar menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

Penulis adalah pemerhati pertanian, akademisi UT Jakarta, alumnus S3 IPB

Friday, October 13, 2006

Dadih

Dadih: Susu Kerbau Fermentasi
Mampu Menurunkan Kolesterol


Oleh: Dr. A. Rusfidra, S.Pt
sumber: www.cimbuak.net, 3 Januari 2006


Aneka produk olahan susu fermentasi saat ini populer sebagai pangan fungsional yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh manusia. Produk olahan susu fermentasi yang banyak dikonsumsi dan beredar luas di masyarakat misalnya yakult, yogurt dan keffir. Sebenarnya dikalangan masyarakat produk olahan susu fermentasi sudah lama dikenal. Masyarakat Sumatera Barat sudah lama mengenal dan mengkonsumsi produk susu kerbau fermentasi yang disebut dadih/dadiah.

Dadih merupakan pangan tradisional masyarakat Sumatera Barat. Dikalangan masyarakat perdesaan dadih seringkali dikonsumsi secara langsung atau sebagai lauk pauk pendamping nasi. Sebagai makanan tradisional dadih sudah dikonsumsi sejak lama oleh masyarakat daerah ini.

Pembuatan Dadih

Dadih terbuat dari fermentasi susu kerbau. Teknologi pembuatannya sangat sederhana. Setelah diperah, susu kerbau langsung dimasukkan ke dalam sepotong ruas bambu segar dan ditutup dengan daun pisang. Selanjutnya didiamkan atau difermentasi secara alami dalam suhu ruang selama satu sampai dua hari sampai terbentuknya gumpalan. Dalam waktu 24 jam, mikrobia dari bambu akan menggumpalkan susu menjadi semacam puding atau tahu putih kekuning-kuningan, kental dan beraroma khas (kombinasi aroma susu dan bambu). Setelah proses fermentasi selesai, dadih dapat langsung dimakan. Yudoamijoyo ddk. (1983) menyebutkan dadih mengandung zat gizi sebagai berikut: kadar air (84,35%), protein (5,93%), lemak (5,42%), karbohidrat (3,34%). Kadar keasaman (pH) dadih adalah 3,4. Di dalam dadih sudah berhasil diisolasi dan didentifikasi 36 strain bakteri pembentuk asam laktat

Manfaat Dadih

Dari beberapa penelitian diketahui bahwa dadih mengandung bakteri asam laktat (BAL) yang potensial sebagai probiotik. Di dalam dadih terdapat bakteri asam laktat (salah satu jenis bakteri probiotik) yang berperan dalam pembentukan tekstur dan cita rasa. Bakteri asam laktat dan produk turunannya mampu mencegah timbulnya berbagai penyakit seperti mencegah enterik bakteri patogen, menurunkan kadar kolesterol di dalam darah, mencegah kanker usus, anti mutagen, anti karsinogenik dan meningkatkan daya tahan tubuh (Suryono, 2003). Selain itu, dadih diduga efektif sebagai antivaginitis (Suryono, 1996).

Penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eni Harmayani dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM berhasil melakukan isolasi bakteri asam laktat (BAL) dari dadih. Bakteri tersebut dinamakan Lactobacillus sp. Dad 13. Selanjutnya berdasarkan uji invitro dan in vivo ternyata BAL dari dadih terbukti ampuh menurunkan kolesterol.

Percobaan pada hewan menunjukkan bahwa dadih efektif menurunkan kolesterol 39,8% pada hewan coba yang diberi pakan tanpa kolesterol dan 13,4% pada hewan yang diberi pakan tinggi kolesterol. Sedangkan pemberian susu fermentasi oleh probiotik dari dadih yang dipasteurisasi dan disterilisasi mampu menurunkan kolesterol sebanyak 42-45% pada pakan tinggi kolesterol dan 50-53% pada pakan tanpa kolesterol (www.ugm.ac.id).

Hasil penelitian tersebut tentu menjadi kabar baik bagi penderita penyakit jantung koroner dan orang yang memiliki kandungan kolesterol dalam darah yang tinggi. Artinya, dadih potensial sebagai pengendali kolesterol. Tidak hanya berhenti sampai disana, Dr. Eni Harmayani terus melakukan penelitian inovatif untuk membuat tablet effervescent yang berisi dadih. Sehingga dadih dapat disimpan dalam waktu yang lama, mudah dibawa kemana-mana dan lebih praktis. Bila diperlukan, konsumen tinggal memasukkan tablet ke dalam segelas air matang dan segera meminumnya. Praktiskan. Konsumsi dadih secara langsung tidak menimbulkan diare atau keracunan. Diduga asam laktat yang terdapat di dalam dadih mampu mengalahkan bakteri jahat yang terdapat di dalam susu. Bakteri probiotik di dalam dadih mampu bertahan di dalam saluran pencernaan manusia.

Namun sayang, meski dadih merupakan produk lokal dalam negeri sendiri, namun riset tentang bakteri asam laktat di dalam dadih sangat intensif dilakukan para peneliti Jepang. Sekarang ini di Jepang telah dipasarkan yoghurt yang mengandung bakteri baik asal dadih yang memiliki merek dagang Dadihi. Padahal selain dadih, susu kerbau fermentasi sudah dikenal oleh masyarakat di beberapa daerah lain. Di Aceh, susu kerbau dibuat menjadi mentega dan minyak samin, sedangkan di Sumatera Utara, susu kerbau fermentasi disebut dali.

Dengan semakin banyaknya penelitian inovatif dalam bidang pengolahan susu kerbau fermentasi dapat diharapkan susu kerbau menjadi salah satu alternatif sumber protein hewani yang tersedia secara murah di perdesaan sehingga kasus gizi buruk (malnutrisi) yang merebak di beberapa daerah belakangan ini dapat dicegah.

Selain itu, diversifikasi bahan pangan hewani berbasis susu kerbau di harapkan dapat menutupi kekurangan produksi susu (asal sapi dan kambing) di dalam negeri dan mengurangi impor susu dari negara lain yang menguras devisa negara. Bila produk olahan susu kerbau dapat dikembangkan maka diharapkan pula usaha peternakan kerbau perah dapat semakin bergairah. Jujur diakui bahwa selama ini ternak kerbau tidak mendapatkan perhatian yang layak dari penentu kebijakan, padahal ternak kerbau merupakan ternak tropis yang mampu beradaptasi dengan iklim tropis Indonesia, berperan penting sebagai ternak kerja, sumber daging dan alat transportasi di perdesaan. Semoga.

Dr. a. Rusfidra, S. Pt
(Pemerhati peternakan, alumnus S3 IPB, akademisi UT Jakarta)

Thursday, October 12, 2006

Fenomena Ayam Penyanyi

Fenomena Ayam Penyanyi

Oleh: Dr. A. Rusfidra
(dimuat di Pikiran Rakyat, 26 Agustus 2004)

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Sebagai contoh, Indonesia memiliki keanekaragaman ayam domestik yang memiliki fungsi dan manfaat yang berbeda. Ada ayam kampung penghasil daging, telur, ayam hias, untuk aduan dan ayam penyanyi. Ayam penyanyi adalah ayam yang memiliki suara kokok nan merdu dan menyenangkan hati orang yang mendengarnya. Ada tiga bangsa ayam penyanyi yang sudah lama berkembang dan sangat digemari masyarakat (hobiis), yaitu ayam Pelung (di Jawa Barat), ayam Bekisar (di Jawa Timur) dan ayam kokok Balenggek (di Sumatera Barat). Ayam-ayam tersebut memiliki suara kokok yang khas dan diperlombakan kemerduan suara kokoknya (kontes).

Kegiatan mendengarkan kicau burung sudah lama menarik perhatian manusia. Akhir-akhir ini hobbi memelihara burung berkicau semakin diminati banyak orang dengan berbagai alasan, misalnya: sebagai hobbi atau kesenangan menikmati kicauan burung yang merdu, menikmati keindahan warna bulu dan postur tubuh yang unik, untuk bahan pangan, sebagai komoditi perdagangan serta untuk kegiatan penangkaran dan pelestarian. Keadaan tersebut didukung dengan semakin sering diadakannya kontes burung berkicau (burung penyanyi) yang menyediakan hadiah cukup menarik. Hal terakhir ini telah menggugah masyarakat untuk mendapatkan dan memelihara burung-burung yang disenanginya. Akibatnya harga burung di pasaran menjadi tinggi dari waktu ke waktu.

Burung yang memiliki irama, nada dan frekuensi kicauan berulang-ulang dikenal dengan sebutan burung penyanyi atau burung berkicau (Warsito, 1998). Jenis-jenis burung penyanyi yang bernilai tinggi antara lain: burung perkutut, beo, cucak rawa, anis merah, dan murai batu. Negara Indonesia, selain kaya dengan burung-burung penyanyi juga memiliki ayam-ayam lokal bersuara merdu, yang dapat disebut dengan ayam penyanyi. Ayam-ayam lokal yang dapat digolongkan sebagai ayam penyanyi adalah ayam Pelung, ayam Bekisar dan ayam Kokok Balenggek (AKB). Ayam Pelung merupakan ayam lokal daerah Cianjur yang memiliki suara kokok besar, melengking panjang dan mendayu-dayu. Ayam Bekisar mempunyai suara kokok yang merdu dan telah ditetapkan sebagai fauna maskot Propinsi Jawa Timur. Ayam kokok Balenggek merupakan ayam lokal Ranah Minang, memiliki suara kokok berirama merdu dan bersusun-susun atau bertingkat-tingkat (Balenggek: bahasa Minang).

Rataan durasi berkokok ayam domestik pada umumnya berkisar antara 2-3 detik (Siegel dan Dunington, 1990). Ayam Toutenko Toumaru dan Koeyoshi mampu berkokok selama 15 detik (Tsudzuki, 2003). Pencatatan yang pada enam ekor ayam peserta Kontes Ayam Pelung tingkat Nasional di IPB Bogor tahun 2001, terlihat bahwa durasi kokok ayam Pelung berkisar antara 3,44-7,06 detik, sedangkan Jatmiko (2001) menyatakan bahwa durasi kokok ayam Pelung berkisar 3,0-8,9 detik.

Suara Hewan/Ternak

Organ Penghasil Suara.

Pada bangsa unggas, suara diproduksi oleh syring atau kotak suara yang terdapat pada persimpangan antara trakhea dengan bronkus (Young, 1986). Pada syring terdapat sepasang membran tymphani medial (MTM) yaitu selaput getar dan menghasilkan bunyi jika dilewati oleh udara pada saat ekspirasi. Pada sebagian besar unggas, selaput ini berupa organ yang sederhana, namun merupakan selaput yang kompleks pada burung penyanyi (Young, 1986). Perkembangan syring diatur oleh hormon-hormon gonad (Turner dan Bagnara, 1988), yakni hormon androgen (Gong et al. 1999). Syring atau kotak suara (voice box) terdapat pada persimpangan antara trakhea dengan bronkus (Gambar 1).
Gambar 1. Saluran Pernapasan Unggas (www.biology.eku.edu/RITCHISO/birdrespiration.html.

Menurut Dloniak dan Deviche (2000), produksi song dan song learning dikontrol oleh sebuah daerah di otak yang disebut vocal control region (VCR). Kerja VCR sangat dipengaruhi oleh hormon testosteron dan photo period. Jackman (2003) menambahkan bahwa terdapat dua jalur di otak yang mengatur vokalisasi, yaitu jalur posterior (posterior pathway) dan jalur anterior (anterior pathway). Jalur posterior mengontrol produksi song dan jalur anterior bertanggung jawab mengontrol song learning.

Fungsi Suara pada Unggas

Berdasarkan tipenya ada dua jenis suara pada bangsa unggas, yaitu call (suara panggilan) dan song (suara nyanyian) (Young, 1986; Brenowitz et al. 2003). Tipe suara call digunakan dalam berkomunikasi antar sesama, sebagai isyarat adanya musuh (respon predator), saat terkejut dan ketika menemukan makanan. Jenis suara song merupakan tipe suara sebagai pernyataan wilayah kekuasaan (territorial declare) dan sebagai atraksi untuk memikat ayam betina yang akan dikawini. Tipe suara call terdapat pada ayam jantan dan betina, sedangkan tipe song hanya terdapat pada ayam jantan.

Eskpresi vokalisasi pada unggas merupakan bentuk dimorfisme seksual pada daerah di otak yang bertanggung jawab terhadap produksi song (Jackman, 2003). Selanjutnya dikatakan bahwa song merupakan perilaku yang kompleks sebagai hasil interaksi faktor genetik dan lingkungan. Brenowitz et al. (2003) menjelaskan bahwa pada kebanyakan spesies burung, suara song hanya diproduksi pada ternak jantan. Pada ayam, suara kokok termasuk suara tipe song dan merupakan karakteristik seks sekunder. Sifat berkokok biasanya baru muncul setelah dewasa kelamin dan dipengaruhi oleh hormon testosteron. Siklus song terjadi sepanjang hari (pagi, siang, sore dan malam).

Suara hewan juga dapat digunakan sebagai indikator kesejahteraan (Zymmerman, 1995; Blokhuis and Koene, 1998; Koene, 2001), sebagai ekspresi emosional dan status fisiologi ternak (Koene, 1996). Dengan mendengarkan suara, kita dapat mengetahui apakah seekor hewan dalam keadaan sehat atau sakit atau seekor ternak dalam keadaan stress atau tidak.

Nilai Ekonomis Suara Kokok

Suara merupakan salah satu komoditi yang bernilai ekonomi. Banyak orang mampu mengolah suara dan menjadikan suaranya bernilai ekonomi, seperti penyanyi, penyair, orator, penyiar dan pembawa acara. Mereka adalah sebagian kecil orang yang meraih popularitas dan materi karena memiliki suara yang indah, merdu dan memikat. Mereka mampu mengubah suara menjadi uang dan popularitas (Rusfidra, 2003)

Suara dapat dijadikan sebagai penanda individu, karena setiap individu mempunyai karakteristik suara spesifik. Tidak satupun orang ataupun hewan yang mempunyai suara persis sama, karena adanya perbedaan spektrum suara, perbedaan frekuensi dan amplitudo, baik antar individu maupun antar spesies. (www.indomedia.com/intisari/1999/oktober/suara.html). Tidak ada dua suara yang persis sama bunyinya (Khalil, 2002). Itulah sebabnya suara dapat dijadikan sebagai sidik suara (voice printing), yang ketepatannya sama dengan sidik jari dan analisis DNA. Dalam dunia kedokteran, riset dan pemanfaatan suara sebagai alat penyembuhan sudah mulai dilakukan. Suara telah digunakan dalam proses penyembuhan (terapi suara), terutama dalam penyembuhan penyakit kejiwaan seperti stress pada manusia, dengan mendengarkan getaran suara pada frekuensi tertentu.

Pada ternak unggas seperti ayam dan burung yang memiliki suara kokok dan kicauan yang merdu biasanya memiliki harga jual yang jauh lebih tinggi dari ayam yang tidak memiliki kokok merdu. Banyak orang setelah mendengarkan kicauan burung, merasa jiwanya menjadi tenang (Oliver, 1966), sedangkan memelihara ayam kampung merupakan aktivitas yang menyenangkan (Delany, 2000).

Kemajuan Riset Ilmu Suara

Ilmu suara (voice science) adalah ilmu yang mempelajari karakteristik suara, mulai dari organ penghasil suara, fungsi suara, fisiologi suara dan analisis suara manusia maupun suara hewan. Dibandingkan dengan ilmu lainnya, ilmu suara memang belum begitu berkembang, akan tetapi melihat besarnya fungsi suara dalam kehidupan, dimasa depan tampaknya ilmu suara akan menunjukkan kemajuan berarti. Di Indonesia, ilmu suara belum menarik para peneliti kita, padahal peran suara amatlah penting.

Riset ilmu suara paling intensif dilakukan pada suara burung, sedangkan riset suara manusia telah dimulai sekitar tahun 1980-an di Laboratorium Ilmu Suara Universitas Groningen, Belanda (www.upmc.edu/upmcvoice/ voiceAnalysisLab.html. Riset modern pada burung penyanyi dimulai sejak tahun 1958 yang dirintis oleh William Thorpe (Brenowitz et al., 2003). Saat ini ratusan ahli ilmu suara sedang mempelajari ilmu tentang suara (voice sains), terutama di Laboratorium Ornithologi Universitas Cornel dan Laboratorium Suara Universitas Groningen, Belanda.

DAFTAR PUSTAKA

Delany M. 2000. Importance of biodiversity preservation for research and industry. In: Proceedings of the XXI World Poultry Conggress, Montreal.

Dloniak S, and Deviche P. 2001. Effects of testosterone and photoperiodic condition on song production and vocal control region volume in adult male Dark-eyes Juncos (Junco hyemalis). J. Hormones and Behaviour, 39: 95-105.

Farner DS, King JR, and Parker KC . 1975. Avian Biology volume V. New York, San Francisco, London: Academica Press.

Fredde M. R. 1976. Respiration. Di dalam: Sturkie PD. (ed.). 1976. Avian Physiology Ed. ke-3. New Yorl, Heiderberg, Berlin: Springer-Verlag.

Jackman N. 2003. Avian song control. (www.serendipe.brynmawr.edu/bb/ neuro/neuro03/webi/njackman.html.

Jatmiko. 2001. Studi fenotipe ayam Pelung untuk seleksi tipe ayam penyanyi. [tesis]. Bogor: Institut Pertanian Bogor, Program Pascasarjana.

Khalil, A. M. 2002. Keajaiban-keajaiban Makhluk dalam Pandangan Al-Imam Ibnul Qayim. Jakarta: Darul Haq.

Koene P. 1996. Stress and emotional in animal. Noldus News, Volume 3, No. 1. Februari 1996. 3p.(http://noldus.com /application /zoology /koene.html).
[1 Juli 2001]

Koene P. 2001. Vocalisation as a welfare indicator in chicken. (http://www.zod.wau.nl/-www.vh/etho/t2-titO2.html). [1 Juli 2001].

Mahardono A, Pratignya S, dan Iskandar S. 1980. Anatomi Burung. Jakarta: Intermasa.

Moiseyeva IG. 1996. The state of poultry genetic resources in Russia. AGRI 17: 73-81.

Obata T, Takeda H, and Oishi T. 1994. Japanese native livestock breeds. AGRI 13: 11-22. FAO. Rome.

Oliver J. 1966. Kehidupan burung. Dalam: Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 7. Jakarta: Groller International Inc – PT. Widyadara.

Rusfidra. Suara. Majalah Tarbawi. 4 September 2003: 23 (kolom Hikmat). Jakarta.

Salt GW, and Zeuthen E. 1960. The respiratory system. In E. J. Marshall (ed.). 1960. Biology and Comparative Physiology of Bird Vol 1. New York and London: Academica Press.

Siegel PB, and Dunnington EA. 1990. Behavioral Genetic. pp: 877-895. In: Crawford RD. (ed.). Poultry Breeding and Genetics. 1990. Amsterdam, The Nederlands: Elsevier Sciences Publishers BV.

Somes RG, Cheng KM, Bernon DE, and Crawford RD. 1990. Mutations and major variants of other body systems in chickens. pp: 273-291. In : Crawford RD. (ed.). 1990. Poultry Breeding and Genetics. Amsterdam, The Nederlands: Elsevier Sciences Publishers BV.

Turner CD, dan Bagnara JT. 1988. Endokrinologi Umum. Ed ke-6. Surabaya: Airlangga University Press.

Tyne JV, and Berger AJ. 1976. Fundamentals Ornithology. 2nd. Ed. New York, London, Sydney, Toronto: John Wiley and Sons.

Warsito A. 1998. Mengenal Aneka Jenis Burung Penyanyi. Jakarta: Trubus Agrisarana.

Young JZ. 1981. The Life of Vertebrata. Ed. Ke-3. Oxford: Clarendon Press.

Zymmerman P. 1995. Vocalisation as a welfare indicator in laying hens. http://www.zod.wau.nl/-www.vh/etho/t2-titO2.html. [1 Juli 2001].

Wednesday, October 11, 2006

Status Terkini Flu Burung di Indonesia

Status Terkini Flu Burung di Indonesia

Status Terkini Flu Burung di Indonesia dan Dampaknya
terhadap Ketersediaan Pangan Asal Unggas

Oleh: Dr. Rusfidra, S.Pt
(Pemerhati Peternakan)
e-mail: ahmad_rusfidra@yahoo.co.id

Abstrak

Wabah penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI) sub-tipe H5N1 hingga kini belum dapat dikendalikan. Virus AI diramalkan potensial sebagai “makhluk pembunuh” yang menakutkan bila penyebarannya tidak bisa dihentikan. Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menduga pandemi global flu burung dapat menewaskan sekitar tujuh juta umat manusia. Kini, seluruh negara di dunia bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi global (terjadinya wabah dalam waktu bersamaan dalam wilayah yang luas). Namun, di dalam negeri penanganan wabah AI tampak seadanya, terkesan serabutan, dan sangat reaktif, padahal transmisi virus AI terus terjadi dan korban manusia makin bertambah. Hingga tanggal 23 Agustus 2006 virus AI telah merenggut 47 nyawa manusia di Indonesia dari 62 korban yang dinyatakan positif terinfeksi AI.

Tak hanya itu, merebaknya wabah flu burung di Indonesia dalam dua tahun terakhir telah berdampak terhadap turunnya konsumsi daging dan telur unggas. Hal ini terjadi karena adanya kekawatiran masyarakat akan terinfeksi flu burung bila mengkonsumsi kedua produk unggas tersebut. Padahal, penyakit flu burung sebenarnya termasuk tipe penyakit air borne desease (penyakit yang menular melalui udara/pernapasan), bukan tipe penyakit food borne desease (menular lewat makanan).

Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani. Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sangat rendah, yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari. Merebaknya kasus gizi buruk dan busung lapar pada anak-anak usia balita beberapa waktu lalu disebabkan oleh kurangnya asupan kalori-protein. Masa balita merupakan “periode emas” pertumbuhan anak manusia dimana sel otak sedang berkembang pesat. Dalam periode ini, protein hewani dibutuhkan agar otak berkembang optimal.

Asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya risiko sakit, memengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans anak sekolah dan menurunkan produktivitas pekerja. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami “lost generation”. Mengingat pentingnya protein hewani asal ternak (daging, susu dan telur) bagi manusia, maka konsumsi produk ternak harus dipacu menuju tingkat konsumsi ideal untuk mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat.

Makalah ini akan mendiskusikan pentingnya edukasi publik terhadap penyakit flu burung. Pembahasan akan meliputi: mengenal flu burung, tantangan penyediaan pangan hewani asal unggas di tengah merebaknya flu burung, dan manfaat pangan hewani bagi pertumbuhan, kecerdasan dan kesehatan manusia meskipun wabah flu burung belum berhasil diberantas dengan tuntas di negeri ini.

Kata kunci: flu burung, protein hewani, ketahanan pangan hewani.

I. PENDAHULUAN

“Negara yang kaya dengan ternak, tidak akan pernah miskin.
Negara yang miskin dengan ternak, tidak akan pernah kaya”.
(Campbell dan Lasley, 1985)

1.1. Latar Belakang

Wabah penyakit flu burung yang disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI) sub-tipe H5N1 masih menyimpan misteri bagi dunia sains. Hingga kini virus AI belum dapat dikendalikan dan berpotensi sebagai “makhluk pembunuh”. Seluruh negara di dunia bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi (terjadinya wabah dalam waktu bersamaan dalam wilayah yang luas). Namun sayang, di dalam negeri penanganan wabah AI tampak seadanya, padahal transmisi virus AI terus terjadi dan korban manusia-pun makin bertambah.
Menurut Nidom (2006) sejak diumumkan adanya infeksi AI pada tanggal 25 Januari 2004, keadaan infeksi flu burung tidak menunjukkan adanya perbaikan. Jumlah orang yang terinfeksi semakin bertambah dan daerah terinfeksi juga semakin meluas. Berdasarkan data Departemen Pertanian, kasus flu burung telah menyerang unggas di 273 kabupaten/kota di 29 provinsi. Sejak ditemukan pertama kali di tanah air pada bulan Juli 2003 virus AI telah membunuh puluhan juta ekor ternak unggas. Hingga tanggal 23 Agustus 2006 terdapat sebanyak 62 kasus manusia positif terinfeksi AI dan 47 orang diantaranya meninggal. Dua kasus terbaru terjadi di Desa Cikelet Kabupaten Garut.

Berdasarkan jumlah korban meninggal akibat infeksi AI, Indonesia merupakan negara di dunia yang memiliki korban terinfeksi AI terbanyak. Bahkan, Indonesia juga memiliki jumlah family cluster terbesar, sebanyak 7 cluster. Menteri Kesehatan menyatakan Indonesia berada dalam kondisi kejadian luar biasa (KLB) flu burung pada tanggal 19 September 2005.

Kasus cluster AI terbesar di dunia terjadi di Desa Kubu Simbelang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dimana delapan orang yang berhubungan darah dinyatakan positif terinfeksi AI, dan tujuh diantaranya meninggal dunia. Menurut Prof. Luhur Suroso (Guru Besar FK. USU) kasus cluster di Desa Kubu Simbelang belum dapat disebut sebagai transmisi virus AI antara manusia (sebagai awal terjadinya pandemi), namun merupakan transmisi antar manusia secara terbatas karena hubungan darah (transmision human to human limited).

Untuk mencegah meluasnya wabah flu burung maka penanganannya harus dilakukan secara sistemik dan melibatkan seluruh komponen masyarakat. Pemerintah telah mencanangkan gerakan TUMPAS AI pada tahun 2005, meskipun belum efektif dimasyarakat. Pemerintah juga telah menganggarkan dana penanggulangan pandemi flu burung selama tiga tahun (2006-2008) sebanyak Rp. 3,22 triliun. Belakangan pemerintah membentuk Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan menghadapi Pandemi Influenza (Komnas FBPI). Lembaga yang dipimpin oleh seorang ekonom ini hingga kini tak jelas efektifitas kerjanya. Mengingat infeksi penyakit flu burung telah menimbulkan kematian yang sangat tinggi (dapat mencapai 100%) pada ternak unggas dan menyebabkan kerugian ekonomi bagi peternak, dan mengancam nyawa manusia, maka penanganannya perlu dilakukan komprehensif dan terintegrasi.

1.2 Urgensi Masalah

Merebaknya wabah flu burung di Indonesia dalam dua tahun terakhir telah berdampak terhadap turunnya konsumsi daging dan telur unggas. Hal ini terjadi karena adanya kekawatiran masyarakat akan terinfeksi flu burung bila mereka mengkonsumsi kedua produk unggas tersebut. Padahal, penyakit flu burung sebenarnya termasuk tipe penyakit air borne desease (menular melalui udara), bukan tipe food borne desease (menular lewat makan). Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi publik tentang penyakit flu burung sebagai upaya penyadaran masyarakat terhadap penyakit flu burung penting dilakukan. Konsumsi bahan pangan hewani asal unggas harus terus dipacu meskipun wabah flu burung belum berlalu di negeri ini.

1.3. Tujuan Penulisan

Makalah ini akan mendiskusikan pentingnya edukasi publik tentang penyakit flu burung. Pembahasan akan meliputi: mengenal flu burung, tantangan penyediaan pangan hewani asal unggas di tengah merebaknya flu burung, dan manfaat pangan hewani bagi pertumbuhan, kecerdasan dan kesehatan manusia.

II. PEMBAHASAN

2.1. Mengenal Flu Burung

Penyakit influenza pada unggas (Avian Influenza, AI) disebabkan oleh virus Influensa tipe A dari family Orthomyxoviridae. Virus AI memiliki beberapa sub-tipe berdasarkan permukaan glikoprotein haemagglutinin (H) dan neuraminidase (N). Sampai saat ini telah diidentifikasi terdapat 15 sub-tipe H (H1–H15) dan 9 sub-tipe N (N1–N9). Diantara 15 sub-tipe H, hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas (virulen) pada unggas. Berdasarkan tingkat patogenisitas (kemampuan menyebabkan sakit), virus AI terbagi atas dua, yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Hingga kini diketahui bahwa virus AI yang berkembang di Asia merupakan virus AI genotipe Z, Z+, V, W dan G. Menurut Smith et.al dalam Mahardika (2006) semua virus AI dari Indonesia termasuk sub-tipe H5N1 genotipe Z.

HPAI merupakan virus yang sangat ganas dan menimbulkan kematian yang tinggi pada unggas. Unggas yang terinfeksi HPAI biasanya memperlihatkan gejala depresi, nafsu makan hilang, nervous, jengger bengkak dan berwarna kebiru-biruan, produksi telur terhenti, gangguan saluran pernafasan yang ditandai batuk, bersin dan diare. Kematian terjadi secara mendadak, dengan angka kematian mencapai 100% pada kelompok unggas yang terserang AI. Sedangkan virus LPAI gejalanya tidak separah HPAI, diantaranya unggas mengalami depresi, gangguan pernafasan tingkat sedang, penurunan produksi telur dan tingkat kematiannyapun lebih rendah. Meskipun begitu, LPAI harus diwaspadai karena sirkulasinya dalam waktu lama dalam sekelompok populasi unggas, memungkinan ia mengalami mutasi menjadi HPAI (Rusfidra, 2005d,e). Hasil analisis Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian (CASERD) menyebutkan bahwa kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat wabah AI sekitar USS 16,2-32,4 juta (McLeod et al., 2005).

Sebelumnya, wabah AI pernah terjadi dibeberapa negara, antara lain di Hongkong (1997, 2001-2003), Itali (1999), Chili (2002), Belanda (2003), Kanada (2004), dan Asia Timur dan Asia Tenggara (2003-2005). Pada tahun 2006 kasus AI ditemukan di Eropa, Asia Tengah dan Afrika (Naipospos, 2006). Pandemi influenza yang terjadi pada tahun 1918 disebabkan oleh virus “influenza Spanyol” menewaskan 20 juta orang (Webster et al. 1999), dan korban meninggal pada umumnya berusia antara 15-45 tahun (Reid et al. 2000).

Untuk kasus Indonesia, berdasarkan tempat tinggal korban, Soeroso (2006) menyatakan bahwa dari 48 kasus di Indonesia, sekitar 44% tinggal di pedesaan, 29% tinggal di pinggiran perkotaan dan 27% tinggal di perkotaan. Menurut jenis pekerjaan (n=48) maka distribusi pekerjaan korban AI adalah sebagai berikut: anak-anak (11 orang), pelajar (10 orang), pekerja kandang unggas (4 orang), penjual ayam di pasar tradisional (2 korban), pekerja non-farm (14 orang), petani (1 orang) dan belum teridentifikasi (6 orang).

Kasus cluster AI terbesar di dunia terjadi di Desa Kubu Simbelang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dimana delapan orang yang berhubungan darah dinyatakan positif terinfeksi AI, dan tujuh diantaranya meninggal. Menurut Prof. Luhur Suroso (Guru Besar FK USU) kasus cluster di Desa Kubu Simbelang belum dapat disebut sebagai transmisi virus AI antar manusia (sebagai awal terjadinya pandemi), namun lebih bersifat transmisi antar manusia secara terbatas karena hubungan darah (transmision human to human limited). Sebelumnya kasus cluster flu burung terjadi di Tangerang (Juli 2005), Bintaro Tangerang (September 2005), Lampung (Oktober 2005) dan Tangerang (November 2005) (Soeroso, 2006).

Dalam Simposium Internasional Penaggulangan Flu Burung yang berlangsung di Jakarta tanggal 19-20 Juli 2006, Naipospos (2006) menyebutkan beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya pandemi flu burung. Strategi tersebut antara lain: melakukan vaksinasi AI pada ternak unggas terutama pada daerah tempat mewabahnya AI, melakukan tindakan biosekuriti secara ketat dilingkungan usaha peternakan unggas, dan melakukan surveilans serta edukasi publik terhadap penyakit flu burung. Dia percaya bahwa vaksinasi merupakan salah satu kunci dalam pengendalian flu burung. Vaksinasi AI dapat meningkatkan kekebalan unggas dan mencegah meluasnya transmisi virus AI. Kebijakan pemunahan total (stamping out) harus dilakukan di daerah peternakan yang positif terinfeksi AI. Stamping out harus dilakukan dalam waktu 24 jam setelah gejala klinis unggas terinfeksi AI terlihat pertama kali (Pakpinyo, 2006).
Kebijakan stamping out harus dilakukan dalam radius 5 km pada lokus wabah AI. karena. Menurut Prof. H.K. Shieh (2006) vaksinasi dapat meningkatkan resistensi unggas terhadap penyakit, menurunkan “virus shedding” dan transmisi virus, dan sangat efektif pada saat kebijakan “stamping out” tidak dapat dilakukan. Vaksin yang digunakan sebaiknya vaksin yang berkualitas tinggi. Vaksinasi tidak hanya dilakukan pada ternak ayam namun juga pada itik dan angsa. Edukasi publik tidak hanya untuk kalangan peternak unggas namun juga masyarakat luas.

Meskipun wabah flu burung bersifat fatal (mematikan) pada unggas, namun konsumen tidak perlu kawatir berlebihan mengkonsumsi daging dan telur ayam. Sebab, virus AI mudah mati dengan pemanasan pada suhu 56 C selama 3 jam atau pada 60 C selama 30 menit Artinya, selama konsumen tidak memakan telur atau daging ayam mentah, maka kecil kemungkinan terinfeksi AI. Apalagi fakta di Thailand, Vietnam dan Kamboja menunjukkan bahwa kasus kematian akibat infeksi AI lebih banyak terjadi pada orang yang terinfeksi dari unggas yang sakit. Karena itu tindakan masyarakat mengurangi konsumsi daging dan telur adalah tidak tepat.

2.2. Tantangan Penyediaan Protein Hewani

Berdasarkan proyeksi Bappenas, pada tahun 2025 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 273,7 juta jiwa. Dalam bidang pangan, Indonesia merupakan pasar yang luar biasa besar, namun hingga kini negeri agraris ini masih tergantung pada pangan impor. Untuk produk peternakan, setiap tahun Indonesia mengimpor sapi hidup sebanyak 450 ribu ekor dari Australia, 30 ribu ton tepung telur dan 140 ribu ton susu bubuk. Konsumsi protein hewani penduduk Indonesia sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara rataan konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari. Masyarakat di negara maju seperti Prancis, Inggris dan Amerika Serikat, konsumsi protein hewaninya mencapai 50-80 gram/kapita/hari (Han, 1999). Konsumsi protein hewani memiliki korelasi positif dengan pendapatan perkapita masyarakat, panjang umur harapan hidup (life span) dan kualitas hidup warga bangsa.

Konsumsi kalori-protein yang rendah pada anak bawah lima tahun balita) dapat menyebabkan terganggunya pertumbuhan, mudah sakit, terganggunya perkembangan mental, turunnya performans anak sekolah dan turunnya produktivitas tenaga kerja. Bahkan, kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita menyebabkan bangsa ini berpotensi mengalami lost generation. Sebagai warga bangsa, kita patut meneteskan air mata melihat banyaknya anak-anak harapan bangsa tergolek lemah dan berpenyakitan akibat kurang gizi. Mereka sesunguhnya adalah pemilik sah negeri ini di masa depan. Tegakah kita mewariskan negara -yang seharusnya makmur ini- kepada generasi penerus yang kurang gizi, berpenyakitan dan kurang cerdas?

2.3. Memacu Konsumsi Protein Hewani untuk Atasi Gizi Buruk

Merebaknya kasus busung lapar dan malnutrisi yang telah menelan korban meninggal dunia anak bangsa beberapa waktu adalah tragedi kemanusiaan yang amat menyakitkan. Kasus malnutrisi menunjukkan konsumsi kalori-protein yang sangat parah pada tingkat keluarga. Padahal konsep ketahanan pangan yang tepat adalah ketahanan pangan (food security) pada tingkat rumahtangga, bukan angka statistik berskala nasional yang semu dan amat bias. Sayangnya, ditengah usaha berbagai pihak mempromosikan peningkatan konsumsi protein hewani, negara ini disibukkan oleh merebaknya kembali wabah flu burung dan menelan 45 korban meninggal dunia. Kasus kematian akibat infeksi AI terjadi pertama kali pada bulan Juli 2005 di Tangerang. Disini tiga orang dalam satu keluarga meninggal yaitu Iwan Siswara Rafei (38) dan dua anak perempuannya, Thalita Nurul Azizah (1) dan Sabrina Nurul Aisah (8). Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia belum sepenuhya bebas dari virus flu burung. Kita tentu berharap kepada pemerintah untuk bekerja maksimal menuntaskan kasus flu burung, sehingga konsumen menjadi tenang dan tidak kawatir berlebihan terinfeksi flu burung bila mengkonsumsi daging dan telur ayam.

Meskipun wabah flu burung bersifat fatal (mematikan) pada unggas, namun konsumen tidak perlu terlalu kawatir untuk mengkonsumsi daging dan telur ayam. Melalui pemanasan pada suhu 56 C selama 3 jam atau pada 60 C selama 30 menit virus Avian Influenza (AI) akan mati (Rusfidra, 2005c). Artinya, selama konsumen tidak memakan telur atau daging ayam dalam kondisi mentah, maka kecil kemungkinan terinfeksi AI. Sebab, beberapa kasus AI di Vietnam dan Thailand menunjukkan bahwa kebanyakan korban adalah orang yang berinteraksi langsung dengan ternak unggas yang terinfeksi AI. Karena itu, upaya kampanye makan daging dan telur ayam yang dilakukan oleh pejabat pemerintah merupakan langkah cerdas untuk memulihkan citra bahwa aman mengkonsumsi daging dan telur ayam, sepanjang kedua komodoti unggas diolah secara benar sebelum dimakan. Selain itu, konsumsi protein hewani masyarakat kita harus ditingkatkan untuk menuju kualitas hidup masyarakat yang lebih baik.

2.4. Manfaat Pangan Hewani

Bahan pangan merupakan kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk hidup sehat. Disamping memerlukan bahan pangan nabati manusia juga memerlukan bahan pangan hewani (daging, susu dan telur) sebagai sumber protein untuk kecerdasan, memelihara stamina tubuh, mempercepat regenerasi sel dan menjaga sel darah merah (eritrosit) agar tidak mudah pecah. Meskipun masyarakat menyadari pangan hewani sebagai kebutuhan primer namun hingga kini konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia masih sangat rendah bila dibandingkan dengan konsumsi sesama negara ASEAN.

Pada tahun 2000, konsumsi daging unggas masyarakat Indonesia hanya 3,5 kg/kapita/tahun, jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan konsumsi masyarakat Malaysia (36,7 kg), Thailand (13,5 kg), Fhilipina (7,6 kg), Vietnam (4,6 kg) dan Myanmar (4,2 kg). Konsumsi daging unggas masyarakat Indonesia hanya sedikit diatas Laos (2,4 kg) dan Kamboja (1,9 kg) (Poultry International, 2003). Masyarakat Indonesia baru mengkonsumsi daging unggas 10 gram/kapita/hari, sedangkan Malaysia mencapai 100 gram/kapita/hari.

Konsumsi telur masyarakat Indonesia juga sangat rendah, yakni sebesar 2,7 kg/kapita/tahun, sedangkan masyarakat Malaysia 14,4 kg/kapita/tahun, Thailand 9,9 kg dan Fhilipina 6,2 kg. Bila rata-rata satu kilogram telur terdiri atas 17 butir, maka konsumsi telur masyarakat Indonesia baru 46 butir/kapita/tahun. Artinya, setiap orang Indonesia baru mengkonsumsi 1 butir telur setiap 8 hari sekali. Padahal penduduk Malaysia setiap tahunnya memakan telur sebanyak 245 butir atau rata-rata 2 butir telur dalam tiga hari sekali. Konsumsi susu masyarakat Indonesia juga sangat rendah, yakni sekitar 7 kg/kapita/tahun, sedangkan Malaysia sudah mencapai 20 kg/kapita/tahun.

Konsumsi daging, telur dan susu yang rendah menyebabkan target konsumsi protein hewani sebesar 6 gram/kapita/hari belum tercapai. Padahal untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, rata-rata konsumsi protein hewani ideal adalah 26 gram/kapita/hari (Tuminga et. al. 1999). Analisis paling akhir yang dilakukan Prof. I.K Han, guru besar Ilmu Produksi Ternak Universitas Nasional Seoul (1999) menemukan sebuah fakta menarik. Ia menyatakan bahwa terdapat relasi positif antara tingkat konsumsi protein hewani dengan umur harapan hidup (UHH) dan pendapatan perkapita. Semakin tinggi konsumsi protein hewani masyarakat di suatu negara semakin tinggi umur harapan hidup dan pendapatan domestik brutto (PDB) negara tersebut.
Negara-negara berkembang seperti Korea, Brazil, China, Fhilipina dan Afrika Selatan memiliki konsumsi protein hewani 20-40 gram/kapita/hari, UHH penduduknya berkisar 65-75 tahun. Negara-negara maju seperti AS, Prancis, Jepang, Kanada dan Inggris konsumsi protein hewani masyarakatnya berkisar 50-80 gram/kapita/hari, UHH penduduknya 75-85 tahun. Karena jangan heran bila manusia yang berumur lebih dari 100 tahun sekarang banyak terdapat di Jepang. Sementara negara-negara yang konsumsi protein hewani di bawah 10 gram.kapita/hari seperti Banglades, India dan Indonesia, UHH penduduknya hanya berkisar 55-65 tahun (Han, 1999).

Rendahnya konsumsi protein hewani telah berdampak luas pada tingkat kecerdasan dan kualitas hidup masyarakat Indonesia. Negara Malaysia yang pada tahun 1970-an mendatangkan guru-guru dari Indonesia, sekarang jauh meninggalkan Indonesia, terutama dalam kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagaimana ditunjukkan oleh peringkat Human Development Indeks (HDI) tahun 2004 yang dikeluarkan United Nation Development Program (UNDP). Indonesia berada pada peringkat ke-111, hanya satu tingkat di atas Vietnam (112), namun jauh di bawah negara ASEAN lainnya. Singapura (peringkat 25), Malaysia (59), Thailand (76) dan Fhilipina (83) (Rusfidra, 2006b).

Studi Monckeberg (1971) menunjukkan adanya hubungan antara tingkat konsumsi protein hewani pada anak usia pra-sekolah dengan frekuensi kejadian defisiensi mental. Konsumsi protein hewani yang rendah pada anak usia prasekolah dapat mengakibatkan anak-anak berbakat normal menjadi sub-normal atau bahkan defisien. Peningkatan konsumsi protein hewani dapat mengurangi frekuensi kejadian defisiensi mental.
Selain untuk kecerdasan, protein hewani dibutuhkan untuk daya tahan tubuh (stamina). Hasil pengamatan Shiraki et al. (1972) membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia pada orang yang menggunakan otot untuk bekerja keras. Gejala anemia tersebut dikenal dengan istilah “sport anemia”. Penyakit ini dapat dicegah dengan mengkonsumsi protein yang tinggi, dimana sebanyak 50% dari protein yang dikonsumsi harus berasal dari protein hewani. Protein hewani diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit (butir darah merah) sehingga tidak mudah pecah. Protein hewani juga berperan dalam mempercepat regenerasi sel darah merah.

Protein hewani memiliki komposisi asam amino yang lengkap dan dibutuhkan tubuh. Nilai hayati protein hewani relatif tinggi. Nilai hayati menggambarkan berapa banyak nitrogen (N) dari suatu protein dalam pangan yang dimanfaatkan oleh tubuh untuk pembuatan protein tubuh. Semakin tinggi nilai hayati protein suatu bahan pangan makin banyak zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Hampir semua pangan asal ternak mempunyai nilai hayati 80 ke atas. Telur memiliki nilai hayati tertinggi yakni 94-100 (Hardjosworo, 1987 dalam Rusfidra, 2005c).

Lebih lanjut, Hardjosworo (1987) dalam Rusfidra (2005c) berhasil mengidentifikasi empat faktor penting penyebab rendahnya konsumsi protein hewani: Pertama, mahalnya harga pangan asal ternak bila diukur dari rata-rata pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia. Untuk menghasilkan daging dan telur diperlukan pakan yang mahal, apalagi komponen bahan pakan unggas (bungkil kedele, tepung ikan dan jagung) merupakan bahan impor.

Kedua, tidak meratanya tingkat ketersediaan daging, susu dan telur di seluruh penjuru tanah air. Bahan pangan tersebut melimpah di kota-kota besar dan sekitarnya tetapi sangat langka di daerah yang jauh dari perkotaan. Ketiga, pengaruh kemampuan produksi dalam negeri terhadap konsumen protein hewani. Keempat, selera selektif dari masyarakat Indonesia. Bila dibandingkan dengan negara-negara Barat yang lebih tinggi tingkat ekonominya, variasi jenis ternak yang dijadikan sumber pangan di Indonesia sangat sempit. Sebagai contoh dari ternak unggas hanya ayam yang disukai, sedangkan itik dan puyuh baru sebagaian kecil yang memanfaatkan.

III. PENUTUP

3.1. Simpulan
1. Penyakit influenza pada unggas (Avian Influenza, AI) disebabkan oleh virus Influensa tipe A. Sampai saat ini telah diidentifikasi terdapat 15 sub-tipe H (H1–H15) dan 9 sub-tipe N (N1–N9). Diantara 15 sub-tipe H, hanya H5 dan H7 yang bersifat ganas pada unggas. Berdasarkan tingkat patogenisitas (kemampuan menyebabkan sakit), virus AI dibagi atas dua, yaitu Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) dan Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Semua virus AI dari Indonesia termasuk sub-tipe H5N1 genotipe Z.

2. Mengingat pentingnya protein hewani asal ternak (daging, susu dan telur) bagi manusia di segala lapis usia, maka konsumsi produk ternak tersebut semestinya dipacu menuju tingkat konsumsi ideal (26 gram/kapit/tahun) untuk mewujudkan SDM yang cerdas, kreatif, produktif dan sehat.

3. Meskipun wabah flu burung bersifat fatal (mematikan) pada unggas, namun konsumen tidak perlu takut mengkonsumsi daging dan telur ayam. Sebab, virus AI mudah mati dengan pemanasan pada suhu 56 C selama 3 jam atau pada 60 C selama 30 menit. Artinya, selama konsumen tidak memakan telur atau daging ayam dalam kondisi mentah, maka kecil peluang terinfeksi AI.

3.2. Rekomendasi

1. Vaksinasi AI dapat dilakukan sebagai strategi komplementer upaya biosekuriti untuk mencegah penyebaran virus AI.
2. Kampanye vaksinasi AI dan edukasi publik tentang manfaat pangan hewani produk unggas (daging dan telur) harus terus dilakukan dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengenal penyakit flu burung.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, J. R, and Lasley, J. F. 1985. The Science of Animals that Serve Humanity. Ed. 3rd . McGraww-Hill Publication in the Agricultural Science.

Han, I. K. 1999. Role of animal agriculture for the quality of human life in the 21st century. Asian-Aus. J. Anim. Sci. 12 (5): 815-836.

Mahardika, I.G.N. 2006. Molecular epidemiology of H5N1 avian influenza virus in animal in Indonesia. Paper presented at “International Symposium on the Chalenge and Implication of Avian Influenza on Human Security: Sharing Problems, Sharing Solutions. Jakarta, 13-14 July 2006.

Naipospos, T.S.P. 2006. Poultry vaccination: a key tool in the control of Avian Influenza. Paper presented at “International Symposium on the Chalenge and Implication of Avian Influenza on Human Security: Sharing Problems, Sharing Solutions. Jakarta, 13-14 July 2006.

Nidom, C.A. 2006. Flu burung belum menjadi musuh bersama. Artikel Opini. Kompas, 12 Agustus 2006.

Pakpinyo, S. 2006. Strategies of prevention and control avian influenza (AI) in Thailand. Paper presented at “International Symposium on the Chalenge and Implication of Avian Influenza on Human Security: Sharing Problems, Sharing Solutions. Jakarta, 13-14 July 2006.

Reid, A. H. Faung, T. G., Janczewski, T. A and Taunberber, J. K. 2003. Characterization of the 1918 “Spanish”influenza virus neuraminidase gen. Proceeding National Academy of Science, 97 (12): 6785-6790.

Rusfidra. 2006a. Hewan ternak. Artikel dimuat dalam situs www.bung-hatta.ac.id [ Mei 2006].

Rusfidra. 2006b. Penerapan sistem pendidikan tinggi jarak jauh untuk meningkatkan mutu SDM: sebuah bentuk inovasi industri pendidikan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Sistem Inovasi Nasional”, tanggal 19-20 Juli 2006. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Rusfidra. 2005a.Mencegah gizi buruk dan mengentaskan kemiskinan: peternakan skala rumahan. Artikel iptek Harian Pikiran Rakyat. Bandung, 25 Agustus 2005.

Rusfidra. 2005b. Protein hewani dan kecerdasan. Artikel Opini Harian Sinar Harapan. Jakarta 8 September 2005.

Rusfidra. 2005c. Ketahanan pangan hewani pada tingkat rumahtangga untuk mencegah gizi buruk dan mengentaskan kemiskinan. Artikel disertakan pada Lomba Karya Ilmiah Populer Hari Pangan 2005. PWI Pusat Jakarta [tidak dipublikasikan].

Rusfidra. 2005d. Mewaspadai merebaknya wabah flu burung”. Artikel ipteks dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 28 Juli 2005.

Rusfidra. 2005e. KLB wabah flu burung. Artikel ipteks dimuat di Harian Sinar Harapan Jakarta (30 September 2005).
Shieh, H. K. 2006. The nessecity to use vaccine as a tool to control high pathogenic Avian Influenza. Paper presented at “International Symposium on the Chalenge and Implication of Avian Influenza on Human Security: Sharing Problems, Sharing Solutions. Jakarta, 13-14 July 2006.

Soeroso, S. 2006. Questions and lesson learnt from current situation of Avian Influenza in Indonesia. Paper presented at “International Symposium on the Chalenge and Implication of Avian Influenza on Human Security: Sharing Problems, Sharing Solutions. Jakarta, 13-14 July 2006.

Weebster, R.G. 1999. “1918 Spanish influenza: the secret a remain elusive”. Proceeding National Academy of Science, 96 (4): 1164-1166.

(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional FMIPA Universitas Dipoengoro Semarang, 9 September 2006)

Penerapan Model Pembelajaran Jarak Jauh

Penerapan Model Pembelajaran Jarak Jauh
untuk Meningkatkan Kompetensi Guru IPA

Oleh : Dr. Rusfidra

Abstrak

Guru merupakan komponen penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan nasional. Guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan, tidak hanya berprofesi sebagai pengajar, namun juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dalam menjalankan fungsinya sebagai agen pembelajaran, guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional. Selain itu, berdasarkan Standar Nasional Pendidikan, setiap guru harus memiliki kualifikasi pendidikan sarjana satu atau diploma IV. Guru merupakan faktor determinan dalam revitalisasi pendidikan nasional. Guru adalah motivator, fasilitator sekaligus ilmuwan.

Upaya peningkatan kualifikasi guru dapat dilakukan di perguruan tinggi. Secara umum metode penyampaian materi ajar di pendidikan tinggi dilakukan dalam dua bentuk, yaitu pendidikan tinggi tatap muka (konvensional) dan pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ). Ciri utama PTJJ adalah terpisahnnya dosen dan mahasiswa karena faktor jarak. Sebagian besar komunikasi antara dosen dan mahasiswa dilakukan melalui surat, telepon, faksimili atau e-mail. Sistem PTJJ merupakan salah satu solusi mengatasi kesenjangan antara keterbatasan sumber daya pendidikan dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi.

Untuk meningkatkan kompetensi guru IPA yang cerdas dan berpengetahuan agaknya model pembelajararan jarak jauh dapat dijadikan sebagai sebuah solusi meningkatkan kualifikasi pendidikan guru ketika daya tampung sistem pendidikan tatap muka sangat terbatas. Makalah ini dimaksudkan untuk mengelaborasi penerapan pembelajaran jarak jauh untuk meningkatkan kompetensi guru IPA. Berikutnya diulas pula potensi penerapan PTJJ di Indonesia dengan bercermin pada pengalaman Jurusan Biologi FMIPA Universitas Terbuka.

Kata kunci : pembelajaran jarak jauh, kompetensi guru, universitas terbuka.

I. PENDAHULUAN

“Bangsa yang maju adalah bangsa yang baik pendidikannya; bangsa yang jelek pendidikannya tidak akan pernah menjadi bangsa yang maju”.

---Presiden Susilo Bambang Yudhoyono---

Salah satu komponen penting dalam upaya meningkatkaan mutu pendidikan nasional adalah adanya guru yang berkualitas, profesional dan berpengetahuan. Guru, tidak hanya sebagai pengajar, namun guru juga mendidik, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dalam menjalankan tugasnya sebagai agen pembelajaran, maka guru diharapkan memiliki empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi sosial, kompetensi kepribadian dan kompetensi profesional.

Menurut Zamroni (2006), guru yang profesional adalah guru yang menguasai materi pembelajaran, menguasai kelas dan mengendalikan perilaku anak didik, menjadi teladan, membangun kebersamaan, menghidupkan suasana belajar dan menjadi manusia pembelajar (learning person).Selain sebagai sebuah profesi, seorang guru adalah motivator dan fasilitator dalam transformasi IPTEK pada anak didik.

Oleh karena itu, guru pada abad ke XXI adalah seorang saintis yang menguasai ilmu pengetahuan yang ditekuninya. Sebagai ilmuwan, guru tergolong elit intelektual. Guru bukanlah profesi kelas dua. Sebab itu, calon guru sebaiknya adalah insan terpilih untuk jabatan profesi mulia. Menurut Rustaman (2006) profesi guru adalah profesi “saintis plus” yang harus menguasai IPTEK dan mampu sebagai motivator dan fasilitator. Sebagai motivator dan fasilitator proses belajar, guru adalah seorang komunikator ulung karena ia harus mampu memberi jiwa terhadap informasi yang diberikan oleh saran komunikasi yang super canggih.

Pasca pemberlakuan UU Guru dan Dosen, guru yang mengajar di pendidikan dasar dan pendidikan menengah disyaratkan memiliki kualifikasi pendidikan sarjana (S-1) atau diploma IV (D-IV). Karena itu, guru yang belum berkualifikasi sarjana diberikan kesempatan mencapai kualifikasi minimal tersebut dalam waktu 10 tahun. Berdasarkan data Balitbang Depdiknas (2004) guru SMA yang berkualifikasi sarjana baru 72,75 persen; guru SMK 62,16 persen; SMP 42,03 persen; SD 8,30 persen dan TK 3,88 persen. Sisanya sekitar 1,9 juta orang belum berkualifikasi sarjana. Semakin tinggi kualitas guru diharapkan kualitas pendidikan nasional akan meningkat. Faktanya, hingga kini kualitas pendidikan masih sangat rendah. Menurut Shanghai Jiaotong University (2005) tak satupun perguruan tinggi di Indonesia yang masuk rangking dalam 100 perguruan tinggi terbaik di Asia dan Australia.

Pendidikan merupakan pilar utama dalam membangun sumber daya manusia (SDM) berkualitas. Semakin terdidik suatu masyarakat semakin besar peluang memiliki SDM yang berkualitas. Semakin tinggi kualitas SDM, semakin besar kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan. Kuatnya kaitan antara pendidikan dengan SDM dalam mengukur keberhasilan pembangunan SDM suatu negara diperlihatkan oleh United Nation Development Program (UNDP).

Meningkatnya keinginan masyarakat untuk mengikuti pendidikan tinggi ternyata tidak diikuti oleh tersedianya insfrastruktur pendidikan tinggi yang memadai. Sebagai misal, Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) tahun 2005 hanya dapat menampung 84.443 orang peserta di 53 PTN dari 304.922 peserta SPMB pada tahun tersebut. Sementara itu, berdasarkan hasil Ujian Nasional (UN) tahun 2006 yang diumumkan beberapa waktu lalu, UN 2006 berhasil meluluskan 1.790.881 siswa (Rusfidra, 2006b).

Dalam kondisi tersebut, perlu dicari alternatif lain seperti menerapkan pendidikan tinggi jarak jauh (PTJJ) untuk menyediakan kesempatan belajar yang lebih murah dan pemerataan kesempatan belajar di pendidikan tinggi. Gagasan tentang universitas terbuka dan PTJJ, virtual university, e-learning, open learning, flexible learning dan home schooling menjadi komponen penting dalam strategi nasional dan global untuk mendidik mahasiswa dalam jumlah besar.

Ditinjau dari metode penyampaian materi ajar dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi, dikenal dua model pendidikan, yaitu model pendidikan tinggi tatap muka (konvensional) dan PTJJ. Berbeda dengan pendidikan tatap muka, pada PTJJ, dosen dan mahasiswa dibatasi oleh jarak karena faktor geografis. Komunikasi antara dosen dan mahasiswa lebih banyak dilakukan melalui surat, telepon, faksimili atau e-mail (Rusfidra, 2002, 2006a,b).

II. LATAR BELAKANG MASALAH

Pendidikan merupakan salah satu faktor determinan kualitas SDM. Akses setiap guru untuk meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti perkuliahan di pendidikan tinggi harus dibuka seluas-luasnya karena pendidikan merupakan hak asasi warganegara. Pendidikan adalah kunci untuk menciptakan, mengadaptasi dan menyebarkan ilmu pengetahuan.Dalam konteks itu, gagasan PTJJ merupakan komponen penting dalam strategi nasional maupun global untuk mendidik mahasiswa dalam jumlah besar. Hal ini sejalan dengan konsep belajar sepanjang hayat (life long learning) dan pendidikan untuk semua (education for all) yang diusung Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB (UNESCO).

III. TUJUAN

Makalah ini dimaksudkan mengelaborasi penerapan pembelajaran jarak jauh untuk meningkatkan kompetensi guru IPA. Berikutnya diulas pula potensi penerapan PTJJ di Indonesia dengan bercermin pada pengalaman Jurusan Biologi FMIPA Universitas Terbuka.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

”Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ajal tiba”

---(Nabi Muhammad SAW.)---

4. 1. Pendidikan dan Kompetensi Guru IPA

Pada saat dunia memasuki milenium ketiga, semua bangsa maju sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) merupakan prasyarat untuk meraih kemakmuran (prosperity) dalam kancah pergaulan antarbangsa. Oleh karena itu, dapat dimengerti jika para ilmuwan sejagat sekarang tengah berlomba-lomba melakukan penelitian, pengembangan dan perekayasaan untuk meningkatkan korpus pengetahuan. Hasil semua ini diharapkan dapat dijadikan modal untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan (Zuhal, 2000).

Berdasarkan Standar Nasional Pendidikan seorang guru diharapkan memiliki empat kompetensi dasar, yaitu kompetensi pedagogis, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional. Kompetensi pedagogis merupakan kompetensi para guru dalam mengelola pembelajran peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimiliknya.Kompetensi kepribadian adalah karakteristik pribadi yang harus dimiliki guru sebagai individu yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa dan menjadi teladan bagi peserta didik.

Kompetensi profesional adalah kemampuan guru dalam penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan mereka membimbing peserta didik dalam menguasai materi yang diajarkan. Kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, tenaga kependidikan, orang tua siswa dan masyarakat sekitar.

4. 2. Pembelajaran Jarak Jauh (Distance Learning)

Suryadi (2005) menyatakan bahwa sistem belajar konvensional di universitas tidak efektif dalam era global perkembangan teknologi, informasi dan komunikasi yang maju pesat. Sekolah dan perguruan tinggi sebagai lembaga pendidikan formal belum banyak menghasilkan SDM unggul yang mampu menggerakkan perubahan dan pembaruan dalam rangka menciptakan akselerasi pembangunan untuk kemajuan bangsa. Oleh karena itu, seyogyanya praktisi pendidikan berlapang dada mengakui bahwa pendidikan belum mampu membangun kecerdasan komunal masyarakat. Kecerdasan komunal merupakan kecerdasan kolektif masyarakat yang dibangun oleh kecerdasan individual dalam membentuk masyarakat intelektual yang memiliki kearifan sosial, cakap berpikir, idealisme, etos, solidaritas, kreativitas dll.

Menurut Suryadi (2005), sistem pendidikan belum berhasil mengatasi enam aspek kelemahan pada luaran pendidikan, yaitu :Pertama, kelemahan mengembangkan power of character. Sistem pendidikan nasional belum mampu mengembangkan karakter dan moral anak didik. Hal ini tampak pada munculnya fenomena sosial seperti egoisme pribadi/kelompok, lemahnya solidaritas, konflik sosial, korupsi, kurang bertanggung jawab, krisis identitas, dan tidak percaya diri. Kedua, kelemahan mengembangkan power of leadership. Konsep leadership cenderung direduksi sebatas kepandaian menjadi pemimpin.Ketiga, kelemahan mengembangkan power of citizenship. Sistem pendidikan belum mampu menanamkan penghayatan, motivasi, dan komitmen untuk memberdayakan heterogenitas sosial dan budaya bangsa sebagai kekuatan dalam percaturan antar bangsa.

Keempat, kelemahan mengembangkan power of thinking. Praktek pendidikan kita tidak banyak memberikan latihan berpikir.Kelima, kelemahan mengembangkan power of skills. Ada kesan kuat bahwa sistem pendidikan dirancang untuk menghasilkan lulusan yang tidak siap kerja. Dalam konteks ini, kita masih menghadapi masalah lemahnya penguasaan keterampilan dan relevansi antara dunia pendidikan dengan dunia kerja nyata. Sistem pendidikan nasional juga tidak memiliki konsep dalam mengembangkan kecakapan entrepreneurship. Keenam, kelemahan mengembangkan power of engineering. Pendidikan kita belum mampu mendorong tumbuhnya kekuatan riset, inovasi dan rekayasa teknologi untuk membangun keunggulan kompetitif.

Selain itu, salah satu persoalan pelik yang dihadapi sistem pendidikan konvensional adalah daya tampung yang rendah. Dalam kondisi demikian maka sistem PTJJ agaknya dapat dijadikan sebagai sebuah solusi.Pembelajaran jarak jauh (distance learning) telah diperkenalkan oleh banyak peneliti, misalnya Keegan (1980); Perry dan Rumble (1987). Karakteristik utama PTJJ adalah: a). pemisahan dosen dan mahasiswa selama proses belajar mengajar; b). penggunaan media pendidikan (cetak, audio, vidio dan internet) untuk menyatukan dosen dan mahasiswa; c). peranan penting organisasi pendidikan dalam perencanaan, persiapan bahan belajar dan penyediaan pelayanan mahasiswa; d). tersedianya komunikasi dua arah, dan e). kemandirian belajar mahasiswa (Rusfidra, 2006a,b).Praktek pembelajaran jarak jauh sangat berbeda dengan model kelas jauh. Menurut Fajar (2002) PTJJ adalah perguruan tinggi yang dalam proses pembelajarannya menggunakan teknologi media, sedangkan kelas jauh sifatnya paralel (semacam filial), kelas yang jauh dari kampus pusatnya (Koran Tempo, 23/02/2002).

Berdasarkan Surat Edaran Dirjen Pendidikan Tinggi No 2630/D/T/2000, model pembelajaran kelas jauh tidak boleh dilakukan, karena diduga dapat merugikan mahasiswa. Sampai saat ini PTN yang secara resmi menyelenggarakan sistem PTJJ hanyalah Universitas Terbuka, meskipun berdasarkan Keputusan Mendiknas Nomor 107/U/2001 tentang Penyelenggaraan Program Pendidikan Jarak Jauh, memungkinkan bagi setiap lembaga pendidikan tinggi menyelenggarakan sistem PTJJ.

4. 2. 1. Menyoal Kualitas Pembelajaran Jarak Jauh

Negara Indonesia yang tersusun dari 17.508 buah pulau terbentang dari Sabang sampai Merauke memiliki potensi besar dalam mengembangkan sistem PTJJ, meskipun masih banyak sinyalemen di masyarakat bahwa PTJJ dianggap sebagai pendidikan kelas dua. Anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Tuduhan lain yang agak mengusik pelaku PTJJ adalah rendahnya mutu lulusan institusi PTJJ. Namun hal itu berhasil ditepis oleh Selim (1989) dalam Suparman (1989). Di Australia, hasil studi Selim (1989) menunjukkan bahwa prestasi mahasiswa PTJJ justru lebih baik dari mahasiswa perguruan tinggi konvensional. Begitu pula temuan Sunarwan (1982), tidak terdapat perbedaan signifikan prestasi belajar antara siswa pendidikan yang menggunakan modul dan pengajaran tatap muka.Meskipun memiliki beberapa keunggulan, namun sistem PTJJ yang dikembangkan UT tak bebas dari kritik. Sebagai misal, salah satu kritik itu adalah berita di harian Kompas (9/5/2005) yang berjudul ”Kuliah jarak jauh tidak menjamin kompetensi guru”.

Kritik terbuka Markus Wanandi (Direktur Yayasan Perkumpulan Strada, Jakarta), terkesan mendiskreditkan UT. Markus mengaku pernah memecat seorang guru lulusan UT yang bekerja di sekolahnya, karena tidak kompeten dalam mengajar.Tuduhan Markus mengenai rendahnya kompetensi guru lulusan UT sangat prematur dan dapat diperdebatkan. Perlu diketahui bahwa guru-guru yang melanjutkan pendidikan di UT merupakan lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan LPTK. Diasumsikan metode belajar mengajar dan teknik pengelolaan kelas sudah mereka dapatkan di lembaga pendidikan terdahulu. Lagi pula, guru-guru tersebut telah berpengalaman mengajar bertahun-tahun. Oleh karena itu, tidak tepat bila Markus menyalahkan UT semata-mata. Ketidakakuratan Markus yang lain adalah kekeliruan dalam penarikan kesimpulan. Bagaimana mungkin hanya dari satu kasus, Markus lantas membuat kesimpulan umum. Penarikan kesimpulan seperti itu tidak memenuhi kaidah metode ilmiah dengan metode statistik yang sahih (Rusfidra, 2006b).

4. 3. UT: Penyelenggara PTJJ di Indonesia

Hingga kini Universitas Terbuka (UT) merupakan satu-satunya PTN yang menyelenggarakan pendidikan terbuka dan jarak jauh. Tujuan pendirian UT adalah untuk: (1) memberikan kesempatan bagi warga negara Indonesia di manapun tinggalnya untuk memperoleh pendidikan tinggi; 2) menampung lulusan SMA yang tidak tertampung di perguruan tinggi tatap muka; (3) mengembangkan pelayanan pendidikan tinggi bagi mereka yang karena pekerjaan atau alasan lain tidak dapat melanjutkan belajar di perguruan tinggi tatap muka, dan (4) mengembangkan program pendidikan akademik dan profesional sesuai kebutuhan nyata pembangunan.Pada saat didirikan, kehadiran UT cukup mendapat respon dari masyarakat. Pada registrasi pertama tahun 1984 mendaftar sebanyak 270.000 pelamar, dan sebanyak 40.000 diterima sebagai mahasiswa UT.

Pada tahun 1997 jumlah mahasiswa UT pernah mencapai 400 ribu orang. Mahasiswa UT berasal dari berbagai latar belakang tingkat pendidikan, sosial ekonomi, usia, pekerjaan dan tersebar luas diseluruh pelosok negeri.Daya tampung UT yang besar disebabkan oleh daya jangkau media yang digunakan sangat luas dan mampu mengatasi kendala jarak dan waktu. Televisi dan radio dapat disiarkan secara nasional. Bahan ajar tercetak dapat dikirimkan kepada mahasiswa melalui pos ke pelosok negeri. Mahasiswa dapat belajar kapan saja sesuai waktu terbaik (prime time) dan dimana saja, tidak seperti mahasiswa tatap muka yang mengharuskan mahasiswa hadir di kelas pada waktu belajar tertentu.

Mahasiswa PTJJ dapat menentukan gaya belajar yang nyaman bagi mereka, sebagai mana diungkapkan Dryden dan Vos (2001), bahwa belajar akan efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan.Dengan jumlah mahasiswa yang besar, UT termasuk dalam kelompok 11 universitas raksasa (mega universities) di dunia. Menurut Suparman et al. (2004) selama 20 tahun pertama kehadirannya (1984-2004) UT telah mendidik sekitar 1.095.440 mahasiswa, dan meluluskan 528.934 alumni yang bekerja di berbagai institusi. Saat ini sebanyak 205.281 orang tercatat sebagai mahasiswa aktif yang tersebar pada 35 program studi pada empat fakultas (FMIPA, FKIP, FEKON dan FISIP) dan Program Pascasarjana.

Jumlah mahasiswa tersebut dilayani oleh 35 buah Unit Pendidikan Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) di 36 kota besar, 1.753 lokasi tutorial dan 671 lokasi ujian.UT menerapkan sistem belajar “jarak jauh” dan “terbuka”. Istilah “jarak jauh” berarti pembelajaran tidak dilakukan secara tatap muka, melainkan menggunakan media, baik media cetak (modul) maupun noncetak (audio/video, komputer/internet, siaran radio dan televisi). Makna “terbuka” adalah tidak ada pembatasan usia, tahun ijazah, masa belajar, waktu registrasi, berapa kali mahasiswa mengikuti ujian dan sebagainya. Batasan yang ada hanyalah setiap mahasiswa UT harus sudah menamatkan jenjang pendidikan menengah (SMA atau yang sederajat).

Mahasiswa UT diharapkan dapat belajar secara mandiri, yaitu cara belajar yang menghendaki mahasiswa untuk belajar mandiri, mengerjakan tugas, memantapkan keterampilan dan menerapkan pengalaman di lapangan. Pada Tabel 1 dapat dilihat ragam bentuk materi pembelajaran yang telah diproduksi oleh UT.Table.1. Total materi belajar produksi UT (Pribadi dan Puspitasari, 2005)TipeTotal· Modul tercetak1.200 judul· Audio3.232 program· Video522 program· Computer Aided Instruction53 program· Network Based70 programDalam penyelenggaraan pendidikan, UT bekerjasama dengan semua perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia. Pada setiap kota PTN tersedia unit layanan UT yang disebut UPBJJ. PTN tersebut berperan sebagai pembina UPBJJ serta membantu dalam penulisan bahan ajar, tutorial, praktikum dan ujian.

4. 3. Pengalaman Jurusan Biologi FMIPA-UT

Sampai kini UT memiliki empat fakultas, yaitu FMIPA, FKIP, FEKON dan FISIP dan Program Pascasarjana. FMIPA terdiri dari tiga jurusan, yuaitu jurusan Matematika, Statistika dan Biologi. Jurusan Biologi memiliki empat program studi, yaitu: PS. Biologi, PS. Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian (PKP), PS. Teknologi Pangan dan PS. Pengelolaan Lingkungan.Program studi Biologi merupakan program tingkat sarjana. Hingga kini PS. Biologi baru menerima mahasiswa yang bermukim di daerah Pulau Jawa (kota Jakarta, Bogor, Serang, Bandung, Purwokerto, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Jember), dan Lampung.

Dalam menyelenggarakan praktikum, PS. Biologi melakukan kerjasama dengan Jurusan Biologi pada empat PTN, yaitu: Jurusan Biologi UNJ Jakarta, Univ. Pakuan Bogor, UPI Bandung dan UNS Surakarta. Selain itu sedang dijajaki kerjasama dengan Jurusan Biologi UNESA Surabaya, UNNES Semarang, UNSOED Purwokerto, UNY Yogyakarta dan UNILA Lampung (Rusfidra, 2006b).Dalam melaksanakan praktikum dan tutorial bagi mahasiswanya, PS. PKP bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Penyuluh Pertanian (STPP), Sekolah Penyuluh Pertanian Negeri (SPPN), Balai Informasi Penyuluh Pertanian (BIPP), Balai Latihan Penyuluh Pertanian (BLPP) yang terdapat di hampir semua wilayah tanah air.


Praktikum dan tutorial dilaksanakan di lembaga-lembaga lingkup Departemen Pertanian tersebut.Selain kerjasama praktikum dengan PTN/PTS, saat ini PS. Biologi mulai mengembangkan praktikum di laboratorium virtual berbasis internet. Menurut Sulistiana (2006) laboratorium virtual adalah laboratorium maya berbasis komputer interaktif yang mengintegrasikan berbagai komponen media dalam bentuk teks, gambar, animasi, suara dan video. Dalam mengembangkan laboratorium virtual terdapat beberapa rangkaian kegiatan mulai dari penyusunan Garis besar Program Medai (GBPM), Analisis Instruksional (AI), flowchart, penulisan naskah, pemrograman dengan macromedia flash. Produk akhir laboratorium dikemas dalam bentuk compact disc (CD). CD ini dapat digunakan sebagai media belajar.

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5. 1. KESIMPULAN

Berdasarkan paparan tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Guru adalah motivator dan fasilitator dalam transformasi IPTEK pada anak didik. Guru bukanlah profesi kelas dua. Sebab itu, calon guru sebaiknya adalah insan terpilih untuk jabatan profesi mulia.
2. Pembelajaran jarak jauh merupakan salah satu solusi dalam meningkatkan kompetensi guru IPA menjadi guru berpengetahuan, cerdas, kreatif, inovatif dan produktif.
3. Ciri utama PTJJ adalah terpisahnnya dosen dengan mahasiswa. Sebagian besar komunikasi antara dosen dan mahasiswa dilakukan melalui surat, telepon, faksimili atau e-mail.

5. 2. SARAN

Untuk meningkatkan kompetensi guru IPA dan menyediakan kesempatan belajar di pendidikan tinggi bagi guru-guru yang belum berkualifikasi sarjana, maka sistem pembelajaran jarak jauh dapat dijadikan sebagai salah satu solusi.

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’an Al Karim dan Al Hadits.

Dryden, G., and J. Vos. 2001. Revolusi Cara Belajar. Bandung: Penerbit Kaifa.

Keegan, D. J. 1980. On defining distances education. Distances Education : 1 (1).

Ki Supriyoko. 2006. Revitalisasi pendidikan nasional. Artikel Opini Koran Kompas, 10 Agustus 2006.

Makhopadhjay, M. 1988. Distances Education: SWOT Analysis. Journal of Educational Planning and Aministration.

Perry, W and G. Rumble. 1987. A Short Guide to Distance Education. Cambridge International Extension College.

Pribadi, B. and S. Puspitasari. 2005. Implementation of quality assurance system in developing learning material of distance education: a case of Universitas Terbuka. Paper presented in AAOU 19th Conference, Jakarta.

Rusfidra. 2006a. Penerapan sistem pendidikan tinggi jarak jauh untuk meningkatkan mutu SDM: sebuah bentuk inovasi industri pendidikan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Sistem Inovasi Nasional”. Diselenggarakan kerjasama LIPI, Bappenas, Kementrian Ristek dan Depperindag. Jakarta, 19 – 20 Juli 2006.

Rusfidra. 2006b. Pengembangan pendidikan MIPA secara jarak jauh: Pengalaman jurusan Biologi FMIPA Universitas Terbuka. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta dan CPIU DIKTI Depdiknas. Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, 1 Agustus 2006.

Rusfidra. 2005. Memacu mutu SDM melalui pendidikan tinggi jarak jauh: Catatan Pasca Konferensi AAOU ke-19. Artikel dimuat di situs www.bung-hatta.ac.id. [28 September 2005].

Rusfidra. 2002. Peranan pendidikan tinggi jarak jauh untuk mewujudkan knowledge based society. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 034. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Depdiknas.

Rusfidra. 2001. Peranan pendidikan tinggi jarak jauh dalam mewujudkan knowledge based society di Ranah Minang. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional “Reaktualisasi Pembangunan SDM dalam Mewujudkan Industri Pendidikan Berkualitas di Ranah Minang”. Diselenggarakan oleh Ikatan Mahasiswa Pascasarjana IPB asal Sumatera Barat. Bogor, 14 April 2001.

Rustaman, N. Y. 2006. Peranan pendidikan biologi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Biologi. Diselenggarakan oleh Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang. 26 Agustus 2006.

Sulistiana, S. 2006. Pemanfaatan laboratorium virtual dalam menunjang praktikum mahasiswa biologi Universitas Terbuka. Makalah pada Seminar Nasional Biologi. Diselenggarakan Oleh Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang, 26 Agustus 2006.

Suparman, A., dan A. Zuhairi. 2004. Pendidikan Jarak Jauh: Teori dan Praktek. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Suparman, A.. A. Zuhairi, dan I. Zubaidah. 2004. Distance education for sustainable development: Lessons learned from Indonesia. Paper presented to the 2004 UT-SEAMOLEC International Seminar on “Open and Distance Learning for Sustainable Development”. Jakarta, Indonesia, 2-3 September 2004

Suryadi, A. Reformasi sistem pembelajaran. Makalah pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran. Jakarta. 5 Desember 2005.UNDP. 2000. Human Development Report 2000. Human Development Index. http://www.undp.org/hdro/hdi1.htmlUniversitas Terbuka. 2005. Katalog Universitas Terbuka 2005-2006. Jakarta.

Zamroni. 2006. Kebijakan pembinaan guru profesional. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA. Diselenggarakan oleh Fakultas MIPA Universitas Negeri Yogyakarta dan CPIU DIKTI Depdiknas. Hotel Inna Garuda, Yogyakarta, 1 Agustus 2006.

Zuhairi, A., A. Suparman, dan M. T. Anggoro. 2004. Universitas maya (virtual): peluang dan tantangan. Di dalam: Asandhimitra (editor). 2004. Pendidikan Tinggi Jarak Jauh. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

Zuhal. 2000. Visi Iptek Memasuki Milenium Ketiga. Jakarta. Penerbit UI Press. (Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Model-model Pembelajaran untuk Meningkatkan Kompetensi Guru IPA, di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung, 16 September 2006).

(Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Model-model Pembelajaran untuk Meningkatkan Kompetensi Guru IPA, di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung, 16 September 2006).